The Opinion

REVITALISASI PERTANIAN DAN

PEDESAAN

( Studi Terhadap Agenda Pertanian Pemerintahan Sby-Jk )

Oleh ;

Achmad Rozani ( Ucox )*

Melihat agenda yang dicanangkan dan akan di lakukan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) pada tahun 2006 ada tujuh point agenda yang di sampaikan pada pidato kenegaraan 16 agustus 2005 yaitu :

  1. Penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan
  2. Peningkatan kesempatan kerja
  3. Revitalisasi pertanian dan Pedesaan
  4. Peningkatan aksesibilitas pendidikan dan kesehatan
  5. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi serta reformasi birokrasi
  6. Penguatan ketahanan dan penyelesaian konflik
  7. Rehabilitasi dan rekonstruksi aceh dan Nias

Sebuah rencana dan strategi ( Restra ) kerja yang optimis untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera seperti yang tercantum pada agenda 100 hari SBY terdahulu yaitu : 1). Perbaikan Iklim Investasi dan Kepastian Usaha 2). Menjaga Stabilitas Ekonomi Makro 3). Peningkatan Kesajahteraan Rakyat dan Penanggulangan Kemiskinan. Tetapi ada satu agenda menurut saya dari entry Point yang di canangkan diatas, masih ada satu Restra yang kurang yaitu Mengembalikan Kedaulatan Negara Di Mata Dunia Internasional yang dengan hal inilah dapat mengembalikan daya tawar negara ini untuk dapat lebih berkuasa atas masalah intern dan ekstern negara dan bangsa ini dan ketika harus ada intervensi dari luar yang akan mengacaukan (Chaos) kita dapat mengesampingkannya. Tetapi dari dari restra SBY 2006 yang ada saya sangat tertarik dengan point ke tiga ( Revitalisasi pertanian dan Pedesaan ) sebuah komitmen penyegaran untuk dapat menghidupkan ekonomi makro melalui ekonomi mikro tataran lokal ( Pedesaan ) terlebih dahulu menuju terwujudnya Ekonomi Kerakyatan, yang selama ini ( Bangsa ) terkesan Kita hanya ingin mengatakan bahwa hanya bidang Industrilah yang dapat memberikan sebuah janji majunya sebuah ekonomi makro dan mikro suatu negara menuju kesejahteraan rakyat yang waktu dulu di nyatakan dengan pemahaman Trickle down Effect. Seharusnya dua hal itu Industri dan Pertanian itu dapat berjalan sejajar atau seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat di pisahkan mungkin dengan Istilah Pembangunan Pertanian Berkebudayaan Industri.

PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKEBUDAYAAN INDUSTRI

Masalah Penduduk Dan kurangnya kesempatan kerja tidak dapat di pecahkan oleh pertanian sendiri. Sementara itu pemusatan usaha pada sektor pertanian saja tidak dapat memanfaatkan secara penuh sumber daya ekonomi indonesia yang sangat beraneka ragam (Leon A Mears).

Masalah Yanag di hadapi oleh masyarakat pertanian indonesia tidak dapat di pecahkan dengan program – program pertanian saja ….. hanya Industrialisasi yang mampu mengubah pengangguran tersembuyi ( Yang Dinamis ) Menjadi kerja yang Produktif (B. Higgins).

Apakah yang di maksud dengan Pembangunan Pertanian Berkebudayaan Industri adalah Suatu sistem terpadu industri, biologi yang merupakan hasil karya cipta dan karsa manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam biologi beserta ekosistem yang berorientasi pada efisiensi, produktifitas, kualitas serta nilai tambah secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dan manajeman agribisnis secara terpadu dan dinamis, di kerjakan oleh pelaku pertanian profesional yang memiliki etos kerja industri dengan karateristik sosial budaya bangsa yang di tujukan bagi seluruh bangsa indonesia berdasarkan keadilan dan kesejahteraan.

Jadi hal ini ternyata memang dunia pertanian menuntut sebuah jalan keadilan untuk dapat menunjukan taringnya sebagai peyokong ketahanan pangan bangsa ini dan juga dapat menjadi sebuah bahan baku yang dapat memberi defisa murni terhadap negara yang hal ini tentunya perlu komitmen lebih dari pemerintah seperti contoh pada negara maju ( G-7 ) untuk dapat menuju hal ini walau saat ini kita masih terganjal dengan kebijakan Standarisasi Versi Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO ) yang sebenarnya lebih cocok untuk negara maju bukan Negara sedang Berkembang.

Kemakmuran yang ada umumnya menjadi ciri zaman liberal ternyata, tidak memberikan manfaat kepada orang – orang indonesia….Obyek sesungguhnya dari semua ini adalah bukan kesejateraan (Rakyat indonesia) tetapi keuntungan bagi pemilik – pemilik modal ( A.M Sievers ).

SINERGISITAS WACANA DAN GERAK

Prof. Dr. Gunawan Sumodingrat. M.ec masalah Pertanian dapat di kategorikan menjadi dua yaitu Internal : 1). Kepemilikan lahan yanag rata – rata sempit 2). Rendahnya Pendididkan 3). Teknologi yang masih sederhana 4). Melebarnya budaya Fatalistik dan Adanya budaya bercocok tanam hanya sebuah ritus sebagai harmonisasi alam bukan sebagai usaha berorientasi profit. Eksternal : 1). Tidak ada Komitmen sungguh – sungguh dari pemerintah untuk mengembangkan dan membangun sektor pertanian untuk memperkokoh ekonomi 2). Masih pada Sektor Industri non pertanian yang lebih utama padahal itu menyebabkan ketergantungan dengan bahan baku Impor sehingga rentan terhadap gejolak mata uang. Belajar dari pengalaman saat ini seperti kasus penyeludupan pupuk bersubsidi yang berhasil di gagalkan, oleh KM Pulau Matak sebanyak 600 ton dan KM baruna sejati seberat 2950 ton dengan tujuan ke malaysia , kata Eddy Abdurachman Jenderal Bea Dan Cukai hasil investigasi dilakukan pada Pupuk kaltim sejak 2004 – juni 2005 ekspor 96 kapal ( 380.756 ton ) dengan perkiraan total harga Rp. 127,93 M (Kompas 20-10-2005) atau berapa besarnya nilai (Kuota) Impor beras yang saling berbeda antara Departemen pertanian dan Departeman Perdagangan sehingga menuai kritik dari pengamat Ekonomi Pertanian ( Bustanul Arifin ) “ saya melihat persoalan Kuota ini dari sisi persoallan KOMUNIKASI, munculnya kuota itu harus di kaitkan dengan target swasembada. Departemen Pertanian dan Perdagangan harus untuk menentukan suplai dan Harga “. Artinya Bangunan kebijakan pangan nasional mengalami hambatan struktural yang sangat serius. Arah dan kebijakan pangan nasional lebih banyak ditentukan oleh simbiosis mutualisme antara. kepentingan perdagangan global dengan kepentingan jangka pendek individu atau golongan yang berkuasa. Sementara itu koordinasi antar departemen dan sektor yang mengurusi soal pangan tidak berjalan dengan baik, kalau tidak disebut sebagai sarat muatan kepentingan sektoral. Kebijakan yang dikembangkan departemen seperti berjalan sendiri sendiri sesuai dengan kepentingan depar.temennya masing-masing, bahkan tidak jarang terjadi benturan kepentingan.

REVITALISASI PERTANIAN DAN PEDESAAN ITU ?

Untuk Membangkitkan kembali berjalannya serta optimalisasi pertanian dan pedesaan memang tak semudah membalik telapak tangan untuk menjadikan pertanian dan pedesaan menjadi salah satu ujung tombak (stakeholder) kebangkitan ekonomi Indonesia harus dengan mengawali dari daerah melalui konteks Otonomi daerah tersebut Kalimantan Selatan karena dari perhitungan Produk Domestic Bruto ( PDB ) kontribusi Kalimantan Selatan kepada pemerintah pada tahun 2003 sektor terbesar bidang pertanian untuk PDB Kalimantan selatan dengan nilai persentase 24,49 % dari pada bidang lain ( Pertambangan, Kehutanan, jasa, dll ). Inilah perlu kerja keras dan komitmen bersama yang lebih, tetapi jika hal ini hanya akan menjadi wacana kosong maka hal itu adalah sama saja bualan, jadi menurut saya yang harus dilakukan saat ini salah satunya seperti kata Menteri pertanian 1). Stop Impor Beras yang tidak tepat dan Konversi lahan produktif, baru 2). Meningkatkan daya saing hasil komoditi dan industri pertanian dari pedesaan yang berkerja sama dengan departemem perdagangan untuk akses pasar yang jelas dan pemberian jaminan pendapatan ( Kemudahan terhadap akses modal untuk dapat meyentuh petani rendah ) 3). Terciptanya jaminan keterikatan atas dasar keadillan dan kemanusian terhadap usaha dengan usaha diluar sektor pertanian. 4). Kekuatan Kebijakan (Power Of Policy) yang berkeadillan sosial sebagai pranata pendukung dengan kata lain Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian harus sejalan dengan pembangunan nasional 5). Profesionalisme pengelolaan bukan privatisasi dan Tranparansi atas segala bentuk kegiatan dan nilai tender Ekspor dan Import bidang pertanian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s