The Opinion

 

IMPOR BERAS KEMATIAN

EKONOMI

KERAKYATAN

Oleh :

Achmad Rozani ( Ucox )*

Republik Rakyat Cina ( RRC ) menurut data kependudukan dunia merupakan negara yang banyak dan besar penduduknya muka bumi ini, namun bercerita tentang kebijakan pangan dari negara tirai bambu itu sangat sunggung menakjubkan, mereka mempuyai perhitungan stock pangan 2 tahun kedepan padahal dari segi tanah hanya 17 % saja yang dapat di jadikan lahan produktif bagi bidang pertanian. Disini bukan hanya saja kebijakan pangannya saja yang dapat kita lihat sukses tapi pertumbuhan ekonomi yang lain negara tirai bambu tersebut pun juga bahkan dianggap dapat tumbuh maju melebihi negara di asia lainnya yang dianggap maju lebih dulu dari pada RRC.

RRC yang secara kenyataan mempuyai lahan produktif hanya 17 % jika di bandingkan dengan tanah di indonesia yanag jauh lebih luas dan juga lebih subur tetapi pada kenyataan masalah pangan ( Beras ) tetap menjadi problematika bangsa ini di setiap tahunnya, di saat memasuki masa paceklik. fenomena seperti ini sangat sulit di pahami pepatah lama mengatakan Bagaikan Ayam Lapar Dalam Lumbung Padi jika di sangkut pautkan dengan kasus kelaparan dan import beras. Atau negara kuba yang secara yang sistem telah berani mengambil kebijakan dalam bidang pertaniannya dengan penerapan pembudidayaan tanaman organis dengan hasil pangan organis yanag dapat di pertanggung jawabkan secara kesehatan. Yang ternyata produk organis tersebut dapat menembus pangsa pasar negara adidadaya ( AS ) yang secara sistem sangat memproteksi ( meindungi ) petaninya dari produk import dengan menaikkan pajak bea masuk barang import dan qulitas kontrol pangan yang ketat melalui Balai Pemeriksaan obat dan makanan negara tersebut. Dari segi tingkat toxicitas, Sedangkan di negara Saat ini kita melihat bagaimana bidang pertanian masih hanya di jadikan sebuah makanan politik untuk menarik hati rakyat kecil dan di jadikan peningkatan pamor dan daya tawar oknum.

Kalau kita cermati secara jelas dari segi infrastruktur ( Saprodi ) negara ini telah mempuyai itu dengan cukup memadai tetapi dari segi regulator ternyata sangat tidak pro rakyat kecil ( masyarakat Tani ). Kita lihat Masayarakat tani hanya di jadikan seperti sapi perah yang harus diperintah memasokkan hasil pertaniannya untuk memenuhi konsumsi kekota tanpa bisa di beri sebuah sarana kelayakan penghidupan untuk mendukung produktifitasnya secara sistem.

Yang terakhir ……. ..

Sadar atau tidak, di pikir atau tidak. Dimasa yang akan datang pemasalah kritis di hadapi bangsa ini dan Negara – negara di dunia adalah masalah ekonomi dan pangan, karena semakin baik arah perkembang ekonomi Negara dan makin baik perekonomian individu pribadi maka tuntutan akan kebutuhan konsumsi yang layak pun akan menjadi kepatuttan. Dengan ilustrasi ketika seseorang kehidupannya belum baik ( Ekonomi lemah ) mungkin ia akan memakan makanan dengan qualitas rendah tetapi ketika ekonomi nya menguat maka tuntutan konsumsi dan keinginan pun akan berubah dengan memilih konsumsi yang lebih baik, misalkan beras, roti atau sebagainya tentu akan ada. Masalah pangan adalah suatu hal yang akan terus menimbulkan sebuah rantai gejolak yang tidak pernah berhenti , misal ketika harga nya berubah pasti langsung akan ada reaksi apa lagi objek tersebut menghilang karena pangan merupakan kebutuhan utama bagi hidup. Hak atas pangan adalah hak paling asasi untuk setiap individu.

Import beras ini dalam tiap tahun yang coba kita lihat pasti terjadi bagai mana februari tahun 2002 dilakukan import beras sebanyak 500.000 ton padahal saat bulan itu merupakan bulannya akan datangnya petani untuk panen raya yang secara garis hitungan memberikan dampak (Side Effect) itu menjatuhkan harga gabah petani yang hal ini memberikan kesempatan sebesarnya kepada para tengkulak beras yang tidak bermoral untuk mendapatkan beras yang murah dan di simpan dan di lepas pada saat harga beras mahal di pasaran. Ketika pemerintah di tuntut untuk membeli panen petani alasan keuangan atau tempat peyimpananan sangat tidak memungkinkan menyerap hal itu semua ataau sebaliknya Pada saat harga beras untuk komsumsi mahal dan keuangan pemerintah tidak mencukupi untuk pembelian beras dari para petani disaat karena harga pembeli pemerintah ( HPP ) tidak sesuai lagi dengan Nilai uang yang di patok pemerintah maka jalan mudah dan dianggap sangat legal adalah melakukan IMPORT tanpa bisa melakukan penekanan lain terhadap para tengkulak untuk melepas berasnya dengan harga yang normal. Jika gejala import pangan ini menjadi rutinitas tahunan hal ini akan menyebabkan petani mempuyai pemikiran apa yang mereka tanaman tidak dapat menjadikan hidup mereka lebih baik apalagi Menjadikan Kaya, maka satu persatu petani meninggalkan bercocok tanam beras mengganti dengan komoditi lain yanag mempuyai nilai ekonomis lebih tinggi atau bahkan meninggalkan pertanian itu secara total. Dan jelas dampak dari meninggalkanya petani dari bertanam padi tersebut akan menyebabkan bangsa ini tidak dapat memproduksi beras sendiri dan terus kekurangan lalu kita harus import dan kedepannya lagi ketika Negara ini menjadi pengimport beras Akut hal ini akan di jadikan para mafia beras dari luar untuk (Mempermainkan harga) dengan mengangkat harga beli yang tinggi bagi bangsa ini yang mau tidak mau kita harus beli padahal kita tau keuangan Negara ini sebagian besar adalah Hasil UTANG. Bagaimana jika uang utang tidak dipergunakan untuk berputarnya ekonomi yang produktif maka kita pasti collapse.

Stop Import Dan Total Support Ekonomi Kerakyatan

Orang awam pun tahu bahwa sector pertanian kita dimasa orde baru diabaikan dan bahkan di anaktirikan, nasib Petani kita mungkin yang paling buruk dibandingkan dengan warga masyarakat yang lain. Banyak orang menuding kesalahanitu dari pemerintah yang begitu jelas. Dengan memberikan subsidi besar – besaran supaya harga beras tetap rendah, yang pada hakekatnya pemerintah bukan memberikan memberi pada petani kita sendiri tetapi malah pada petani asing. Pemerintah menjual harga beras import dengan harga yang lebih murah lewat subsidi, dan jangan lupa susbsisdi itu sendiri juga menjadi proyek KKN yang sudah bukan rahasia ( DR. M. Amien Rais ).

Dari Ungkapan diatas itu saya sangat sependapat sekali dan sangat mendukung para sekali Dewan Terhormat Di Pusat Atau Daerah yang meminta HAK ANGKET karena permasalahan perberasan ini merupakan permasalahan yang wajib di carikan jalan terangnnya dan penyelesaiannya jika di biarkan akan meyebakan fatal terhadap ekonomi kerakyatan, indikasi peyelewengan dapat besar terjadi misalkan oknum yang menggolkan import akan mendapat uang lelah dari usahanya tersebut missal berapa rupiah per kilogramnya. Hal itu sebenarnya untuk mencegah Status quo perBerasan kembali pada era Reformasi ini yang sebenarnya reformasi harus menjadi Perestroika ( Penataan kembali struktur ekonomi kita ).

               Import Beras sendiri dapat dijadikan sebagai salah satu indicator percepatan kematian ekonomi kerakyatan itu sendiri jika impor beras tidak segera di hentikan.  kita tahu ekonomi kerakyatan mempuyai ciri justru terletak pada semangatnya yakni orientasinya yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan rakyat.  Oleh sebab itu jangan sampai ini menjadi langkah mundur dari presiden SBY terhadap komitmennya untuk Kembali Merevitalisasikan Pertanian dan Pedesaan Komitmen itu memiliki  semangat dukungan moral SBY terhadap ekonomi kerakyatan. Jangan sampai  ekonomi Mikro dikorbankan untuk mengejar pertumbuhan Makro padahal kita tahu sinergisitas pertumbuhan dan perkembangan makro dan mikrolah yang dapat mejadi ekonomi bangsa ini kuat bahkan bisa jadi dapat melebihi RRC Di asia.
               Ditengah kompetisi global yang “ KEJAM “ saat ini ekonomi Kerakyatan dari Bidang pertanian sangat memerlukan lindungan dari Negara yang namun hal itu pun tidak cukup hanya denagan perlindungan dan subsidi saja tetapi lebih penting Kebijakan Politik (Politik Policy) dari pemerintah untuk sungguh – sungguh serta peduli petani kecil dan ekonomi kerakyatan.
 
 
Iklan

Satu pemikiran pada “The Opinion

  1. Salam,
    ide tulisan menarik, namun solusi yang ditawarkan masih terlihat buram. Perlu diperjelas, bentuk import beras lokal itu seperti apa, kemudian apakah perlu dibentuk tim tertentu untuk memanajemen dan mengawasi sistem beras di negara ini.

    tulisan ini secara struktur sangat kacau, meski tidak lah penting. Namun, sebagai pembaca saya merasa sangat terganggu dengan kekacauan kalimat-kalimatnya.
    Mungkin anda perlu tutor untuk kepenulisan. Trims. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s