PARTSIPASI DAN REPOSISI

PEREMPUAN

DALAM MEMAJUKAN SEKTOR

PERTANIAN

INDONESIA *

 

Oleh :

Achmad Rozani ( Ucox )*

PENDAHULUAN

Membicarakan perempuan tidak ada pernah kata akhir dan apresiasi terhadap perempuan tidak bisa di materikan hanya dengan sekedar kata – kata karena apa bagi sebagian pengamat Perempuan adalah keajaiban kedelapan setelah tujuh keajaiban dunia jadi perempuan harus bisa di apresiasikan tidak hanya melewati kata-kata. Sejak keberadaanya, pembahasan akan perempuan telah menghabiskan berjuta – juta lembar kertas dan jurnal atau bentuk apapun dalam mengapresiasikannnya kebentuk tulisan. Mulai dari tulisan yang paling ringan misal novel hingga tulisan yang berat lewat meja seminar ataupun kajian – kajian yang tematik tentang eksistensi perempuan dalam tuntutan apapun.

Perubahan zaman, abad ke 20 yang mana dicirikan dengan bangkitnya semangat pengkajian terhadap eksistensi perempuan. Tuntutan – tuntutan akan perubahan sebagai sebuah proses yang dikenal dengan Emasipasi perempuan. Konsep Emansipasi Perempuan yang hari ini masih banyak terjadi multiinterpretasi ( bermacam-macam Pandangan ) di karenakan beragam cara pandang dan kepentingan dalam memahami dan menjalankan tuntutan akan Emasipasi perempuan tetapi yang saya pahami selama ini dari konsep emansipasi perempuan adalah Terbedayakannya semua potensi positif yang ada pada setiap perempuan untuk dapat berkontribusi positif dalam hidup ini.

Dalam kesejarahan Islam seorang Sahabat Rasulullah SAW sekaligus khalifah ke – II pengganti Rasulullah setelah wafatnya beliau yaitu Umar ibnul khaththab r.a yang terkenal dengan sikap tegas dan tanpa pandang bulu dalam memecahkan masalah atau persoalan, pernah berkata terhadap seorang lelaki yang mengadukan perlakuan istrinya , ” Aku sabar menerima segala keluh kesah istriku karena beberapa hak yang di punyainya atasku. Ia telah berjasa memasakkan makanan untukku, memotongkan roti yang aku makan, mencucikan segala pakaian ku, menyusukan anakku. Padahal, semua itu bukan kewajibannya dan di samping itu ia telah menenteramkan jiwaku dan menjauhkan aku dari segala maksiat yang haram. Bagaimana aku tidak bersabar mendengarkan keluhannya di bandingkan dengan pekerjaanya yang begitu banyak ia lakukan ”. Dari uraian diatas seorang sekaliber khalifah

* Makalah ini Di Dedikasikan Untuk Lomba Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa Fakultas Pertanian 16 – 30April 2007 Dalam Rangka Peringatan Hari Kartini Di Laksanakan Oleh BEM Fakultas Pertanian.

pun sangat menghargai peran perempuan dalam mendukung jalannya tugas kenegaraan yang di jalankan seorang khalifah tetapi saat ini seiring dengan proses berpikir manusia yang saya maknai sebagai sebuah dinamika wacana karena itu merupakan suatu kewajaran dan keniscayaan akan sebuah proses dialektika zaman dimana ada yang Pro di Situ pula ada yang kontra sehingga hal ini menghasilkan sebuah dinamisasi dalam kehidupan. Sebagai proses dinamisasi di zaman ini isu yang mengglobal dimana menginginkan perempuan mencapai kesetaraan ( equality ), terhindar dalam bentuk kekerasan ( Violence ), tidak mengalami diskriminasi, tidak mengalami marginalisasi dan lain – lain sehingga wacana tentang emansipasi wanita ini mengalami bias yang sangat jauh sehingga ini menyebabkan tidak terarahnya emansipasi seperti apa yang di harapkan perempuan, yang di takutkan tidak tearahnya konsep emansipasi perempuan ini menyebabkan perempuan hanya malah menjadi konsumen wacana saja dari peradaban modern.

Keterlibatan perempuan Indonesia dalam kehidupan perjuangan bangsa Indonesia dapat diselusuri dari masa kerajaan Hindu, masa kolonialisme, masa penjajahan Jepang dan masa kemerdekaan. Uraian ringkas keterlibatan perempuan dalam kehidupan bangsa menurut kurun waktu tersebut sebagai berikut:

a. Sejak zaman kerajaan Hindu, bangsa Indonesia telah mengenal dan memiliki perempuan-perempuan penguasa (Pemimpin) perempuan seperti Dewi Suhita dan Tri Bhuwana Tunggal Dewi.

b. Pada masa kolonialisme banyak perempuan yang berjuang melawan dan menentang kekuasaan penjajahan dari Belanda seperti Cut Nyak Dien dalam peperangan di Aceh pada Tahun 1873-1904, Marta Christina Tiahahu dalam peperangan di Maluku pada tahun 1917-1819, Nyi Ageng Serang dalam peperangan Diponegoro pada tahun 1925-1830, dan Cut Meutia dalam peperangan di Aceh pada tahun 1905-1910. Selain kontribusi fisik, tokoh-tokoh perempuan yang mengkontribusikan tenaga dan pikirannya untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan melalui kegiatan pendidikan dan kegiatan sosial pada masa kolonial tersebut diantaranya ialah Maria Walanda Maramis pada tahun 1827-1924, Dewi Sartika pada tahun 884-1947, Kartini pada tahun 1879- 1904, Nyi Achmad Dahlan pada tahun 1912-1945, dan Rasuna Said pada tahun 1910-1965.

Pada masa penjajahan Jepang, melalui Departemen Wanita dan Kebaktian Rakyat Jawa Madura (FUJINKAI), banyak Perempuan Indonesia yang berperan serta secara akfif dalam mengembangkan sikap cinta tanah air dan bangsa, mengembangkan kebiasaan hidup sederhana dan menguasai berbagai keterampilan untuk memperoleh kehidupan ekonomi seperti pengolahan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman-tanaman yang bergizi ( Shafiyyah dan Soeripno 2003 ).

Pada masa revolusi fisik banyak pejuang perempuan yang berjuang bahu membahu dengan pria didalam melawan penjajahan, baik dalam bentuk keterlibatan fisik di garis depan peperangan maupun di garis belakang, seperti aktif mengurus dapur umum atau menolong pejuang (korban perang kemerdekaan) yang sakit dan luka-luka dibarak-barak palang merah. Semua bentuk keterlibatan dan pelibatan perempuan Indonesia di dalam keseluruhan kehidupan perjuangan bangsa dan negara merupakan petunjuk bahwa kaum Perempuan di Indonesia pada dasarnya sejak dulu sudah merupakan bagian dan pembangunan nasional, bangsa dan negara ( Shafiyyah dan Soeripno 2003 ).

Dengan demikian, pertumbuhan pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari keberadaan perempuan sebagai aset pembangunan dan eksistensinya sebagai manusia yang memiliki keluhuran harkat dari martabat seperti halnya pria. Pembangunan nasional Indonesia merupakan rangkaian upaya pembanguan yang berkesinambungan dan meliputi keseluruhan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara di dalam mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar (UUD) 1945 ( Shafiyyah dan Soeripno 2003 ).

Peningkatan peran perempuan dalam pembangunan bangsa pada hakekatnya adalah upaya meningkatkan kedudukan, peranan, kemampuan, kemadirian dan ketahanan mental serta spritual perempuan sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pembangunan sebagai suatu kegiatan pengubahan berencana dan direncanakan memiliki tujuan untuk mengadakan perubahan perilaku (kondisi, afeksi dan ketrampilan) positif dari khalayak sasaran pembangunan yang diharapkan dan dirancang untuk dapat menghasilkan kemanfaatanbagi orang banyak, yaitu masyarakat secara keseluruhan ( Shafiyyah dan Soeripno 2003 ).

Sehingga apa, perempuan yang mempunyai potensi besar dalam menjalankan roda hidup umunya dan Negara khususnya yang sebanding dengan laki – laki harus dapat mengkonsep dalam dirinya ( MindSet ) terlebih dahulu bentuk sebuah emansispasi yang diingikan sehingga apa yang di inginkanya dapat terimplementasi dan terasakan manfaatnya oleh orang – orang sekitarnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Ketika berbicara pertanian maka kita berbicara aspek yang sangat luas dimana di sana subjek dan objek. Subjek sektor pertanian yaitu Rakyat ( Petani ), Pasar dan Negara sedangkan untuk objek sektor pertanian yaitu Kondisi ( Pelaku Pertanian, Sumber daya Alam, Manusia, Teknologi Permodalan dan Komoditas ), Kekuatan, Tantangan ( Kepemilikan lahan, birokrasi, modal, keterampilan, mentalitas, organisasi petani, kebijakan, informasi dan lain – lain ), Kelemahan dan peluang dalam sektor pertanian.

Indonesia sebagai sebuah negara yang kembali berbenah diri dalam penataan pembangunan pertanian nya maka Belajar dari salah satu kasus yang ada tentang revolusi hijau. Masa revolusi hijau di indonesia yang dimana Pada tahun 1984 telah mampu memberikan prestasi hebat dengan indonesia mendapatkan penghargaan dari FAO karena indonesia berhasil menjadi negara swasembada beras ketika itu sehingga indonesia bisa mengekpor beras. pada tahun 1988 indonesia mulai menjadi importir beras dan ternyata kesuksesan revolusi hijau yang sesaat itu memberikan begitu besar dampak negatif pada hari ini

Revolusi hijau telah melanggengkan dominasi dan penindasan terhadap kaum perempuan di negeri selatan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mekanisme pertanian dalam revolusi hijau menggususr peran kaum perempuan di sektor pertanian. Kaum perempuan tidak hanya tergusur dari peran mereka di sawah, anggapan bahwa laki – laki adalah pemimpin rumah tangga mengakibatkan banyak informasi tentang program ini tidak menyentuh kaum perempuan, maka lahir kritik dari kaum perempuan terhadap revolusi hijau. Banyak studi mengungkapkan bahwa kaum perempuan di pedesaan menjadi korban revolusi hijau. Di jawa misalnya secara tradisional kaum perempuan telah memiliki peran penting dalam produksi khususnya selama musim panen yang paling membutuhkan tenaga kerja ( Fakih 2003 ).

Sehingga apa, perempuan yang mempunyai potensi besar dalam menjalankan roda hidup umunya dan Negara khususnya yang sebanding dengan laki – laki harus dapat mengkonsep dalam dirinya ( MindSet ) terlebih dahulu bentuk sebuah emansispasi yang diingikan sehingga apa yang di inginkanya dapat terimplementasi dan terasakan manfaatnya oleh orang – orang sekitarnya.

Potensi positif yang besar yang ada pada perempuan ini terkadang di dalam sektor pertanian masih belum terberdayakan secara maksimal padahal kita tahu tantangan dunia pertanian kedepan sebagai lumbung energi khususnya indonesia dan umumnya negara selatan maupun dunia secara global akan semakin besar. Hal di karenakan faktor yang menurut saya bisa di kategorikan kedalam 2 faktor besar yang menyebabkan belum teroptimalkannya peran perempuan dalam memajukan sektor pertanian, yaitu :

1. Faktor Internal

v Paradigma yang belum mapan di karenakan rendahnya mutu pendidikan

Di bidang pendidikan, rendahnya kualitas perempuan dapat dilihat dari terjadinya ketidaksetaraan dalam tingkat pendidikan perempuan dibanding laki-laki. Ketidaksetaraan gender di bidang pendidikan terjadi antara lain dalam bentuk perbedaan akses dan peluang antara laki-laki dan perempuan terhadap kesempatan memperoleh pendidikan. Data SUPAS tahun 1995 menunjukkan bahwa penduduk perempuan berusia 16 tahun ke atas yang berhasil menyelesaikan pendidikan SLTP ke atas baru mencapai 28,58 persen, sementara penduduk laki-lakinya mencapai 38,81 persen. Data yang sama menunjukkan bahwa semakin sedikit penduduk perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan lebih tinggi dibanding laki-laki. Penduduk perempuan usia 25 tahun ke atas yang berpendidikan diploma atau sarjana baru sekitar 2,6 persen, hanya separuh penduduk laki-laki yang persentasenya sudah mencapai 4.67 persen. Selain itu, data SUSENAS 1999 memperlihatkan bahwa persentase penduduk perempuan berusia 10 tahun ke atas yang buta huruf (14.1%) juga jauh Iebih tinggi dibandingkan dengan penduduk laki laki yang sudah mencapai angka 6.3 persen.

v Kemampuan Kaum perempuan untuk dapat mandiri

v Kemampuan secara sadar untuk menorganisir diri secara sosial dan politik dan terikat dalam sistem ekonomi yang ada

2. Faktor Eksternal

v Pertumbuhan Penduduk

Penduduk yang besar. Jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Sebagai contoh data yang dapat disajikan pada makalah ini adalah jumlah penduduk Indonesia di tahun 2000 yang diperkirakan mencapai sekitar 208,2 juta orang terdiri dari laki-Iaki 103,6 juta dan perempuan 104,6 juta orang. Secara kuantitatif, jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, sehingga permasalahan yang sama antar mereka sebenarnya secara langsung mengenai penduduk yang lebih banyak bagi perempuan daripada laki-laki. ( BPS Report 1999 )

v Ketersediaan lapangan pekerjaan

v Tingkat kesejateraan masyarakat indonesia yang semakin menurun

Berdasarkan kelompok umur, sekitar 29,8 persen berusia di bawah 15 tahun, sekitar 62,7 persen merupakan kelompok penduduk usia produktif dengan kisaran umur 15-59 tahun, dan sekitar 7,5 persen yang berusia 60 tahun lebih. Sekitar 44,58 persen di antara kelompok usia produktif tersebut adalah pemuda yakni kelompok penduduk usia 15-30 tahun. Ditinjau-dari kualitasnya, peringkat Indonesia relatif lebih rendahdibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk negara tetangga. Berdasarkan Human Development Report (HDR) 1999, Indonesia dengan nilai Human Development Index (HDI) sebesar 0,681 menempati urutan ke-105 dari 174 negara yang diukur. Pada tahun 2000, angka-angka tersebut mengalami penurunan karena HDI Indonesia mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.( UNDP 1999 )

v Belum Ada Komitment yang kuat dari para stake holder dalam sisi kebijakan yang telah ada. pendekatan pembangunan kita yang belum benar-benar mengindahkan kesetaraan dan keadilan gender.

Pembangunan di berbagai bidang yang diselenggarakan selama ini juga belum terlalu mampu mengangkat kualitas perempuan. Hal ini antara lain dapat dilihat dari masih rendahnya nilai Gender-related Development Index (GDI) Indonesia. GDl mengukur variable-variable dalam HDI. Namun dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, nilai GDI Indonesia adalah 0,675 dan berada pada rangking ke-88. jauh tertinggal dibanding negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand (HDR, 1999).

PEMBAHASAN

Dari Gambaran di atas jelas tertangkap dan menjadi pertanyaan besar kita apakah ada peran perempuan dalam memajukan pertanian indonesia? Bagaimana bentuk parstisipasinya ? berada pada posisi mana di berada ? bagaimana fomulaisnya?

Kita melihat dari prolog di atas terlihat sektor pertanian telah terjadi pelemahan secara sistemik yang di bagi dalam 2 hal yaitu Pelemahan secara sistemik dari dalam di karenakan arah kebijakan yang ada tidak terjadi sinergis dengan sektor lainya di tambah lagi perilaku moral yang buruk ( Moral Hazard ) dari pelaku sektor pertanian. Pelemahan secara sistemik dari Luar misalnya Paradigma Pembangunan yang kapitalistik dan tekanan dari Multi nasional Corporation ( MNC ) yang hal ini berdampak sangat nyata terhadap Kaum Perempuan di sektor pertanian.

Ketika kita berbicara pada fase bentuk partsipasinya dan dimana posisinya maka secara umum kaum perempuan dapat mengambil perannya di mana pun untuk membangun pertanian sebab ketika bicara sebuah pembangunan maka dia harus di pahami sebagai lintas sektoral setelah adanya kesamaan paradigma dalam memandang pembangunan pertanian sehingga penguatan pada sektor pertanian yang di dorong oleh kaum perempuan telah terorgainisir secara mandiri bisa terjadi . Sejalan dengan kepedulian global tentang peningkatan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan, kepedulian bangsa Indonesia diwujudkan dalam bentuk, komitmen pemerintah terhadap perjanjian antar negara yang disetujui untuk juga dilaksanakan di Indonesia yaitu:

  1. Perjanjian tentang Persamaan Pembayaran upah atau gaji bagi perempuan dan pria untuk pekerjaan yang sama. Perjanjian ini dilakukan di Jenewa dan disetujui oleh pemerintah Indonesia dengan UU Nomor 80 Tahun 1957.
  2. Perjanjian tentang Hak Politik untuk perempuan. Perjanjian ini dilakukan di New York dan disetujui oleh pemerintah Indonesia dengan UU Nomor 68 Tahun 1958.
  3. Perjanjian tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan Perjanjian ini disetujui oleh pemerintah Indonesia dengan UU Nomor 7 tahun 1984.
  4. Penandatanganan Protokol penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan pada bulan Februari 2000.

KESIMPULAN

Partisipasi dan reposisi perempuan dalam pembangunan pertanian harus lah di arahkan kepada pembangunan kesadaran kaum perempuan dalam hal ini melalui pendidikan yang aplikatif sehingga kualitas dan kapasitas kaum perempuan dapat meningkat, kebijakan pembangunan pertanian haruslah memperhatikan dan melibatkan kaum perempauan dalam aplikasi mendorong pembanguanan pertanian pada wilayah perkotaan perempuan bisa bermain pada ranah kebijakan publik dan wilayah pedesaan melakukan penguatan perorangan dan kelembagaan pedesaan dalam mendorong pertanian pada posisi Akar rumput (grass root)

REFERENSI

Shafiyyah, Amatullah. Haryati soeripno. 2003. Kiprah Politik Muslimah Konsep dan Implementasi. Gema Insani Press. Jakarta

Fakih, Mansour.DR. 2003. Bebas dari Neoliberalisme. Insist Press. Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s