MENCARI BUPATI BERVISI GLOBAL (MENUJU PILKADA TANAH LAUT 2008)

MENCARI BUPATI BERVISI GLOBAL

(MENUJU PILKADA TANAH LAUT

2008)

Oleh : Danang Wisaksono

Yayasan Khairu Insan, Pelaihari.

Jika bicara reformasi, siapapun tahu, lokomotifnya adalah mahasiswa. Gerbong yang dibawa adalah perubahan, yang terinci dalam 6 Visi Reformasi. Salah satunya adalah reformasi di birokrasi. Semangat ini, disambut baik oleh masyarakat. Karena selama ini, masyarakat dibuat tidak nyaman jika sudah berurusan dengan birokrasi. Bayangkan, misalnya kita mengurus KTP, Akta kelahiran, IMB, dll, yang seharusnya mudah, pada pelaksanaannya dipersulit, yang seharusnya bisa cepat, pada pelaksanaannya diperlambat. Dan ujung dari semua itu, diakui maupun tidak, adalah uang.
Ada uang, semua lancar. Kemudian sistem sentralisasi yang digunakan oleh pemerintah Pusat. Jika mau jujur, ini adalah sebuah keserakahan yang seharusnya tidak terjadi, karena hanya menyengsarakan masyarakat di daerah. Misalnya daerah-daerah penghasil tambang, apakah batu-bara, biji besi, bahkan emas. Ketika dijual, maka hasil penjualannya sebagian besar disetor ke
Jakarta, padahal jelas hal tersebut sangat tidak adil.
Karena itu semangat otonomi daerah yang digelontarkan sejak zaman Presiden Habibie disambut dengan sukacita oleh seluruh masyarakat. Sebab campur tangan pemerintah pusat dahulu sangat dominan sekali, dan hampir-hampir tidak dapat ditolak keinginannya oleh pemerindah daerah. Misalnya, dalam pemilihan kepala daerah. Dahulu Jakarta sering kasak-kusuk untuk menitipkan orangnya, agar bisa menjadi kepala daerah. Tapi sekarang tidak bisa, sebab pemilihan kepala daerah, sejak otonomi daerah digulirkan, adalah pemilihan secara langsung. Jadi masyarakat di daerahlah, yang paham, siapa yang harus dijadikan pemimpinnya di daerah itu. Apalagi kini masyarakat semakin hari semakin kritis cara berfikirnya.

# # #

Berbicara masalah pemilihan kepala daerah, sebentar lagi salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu, Kabupaten Tanah Laut, akan mengadakan pemilihan kepala daerah langsung, kira-kira sekitar bulan April 2008. Sebuah apresiasi demokrasi yang selalu menjadi tontonan tiap lima tahun sekali bagi masyarakat Tanah Laut bahkan bagi masyarakat daerah di seluruh
Indonesia. Sebab, ini adalah kali ke duanya melangsungkan Pilkada langsung. Dimana dikabarkan ada lebih dari dua pasang calon yang akan memperebutkan kursi TALA 1.
Jika dilihat dari letak geografis, Tanah Laut berada pada 114 30’ 20” BT – 115 23’ 31” BT dan 3 30’ 33” LS – 4 11’ 38”, sedangkan luas wilayahnya 3.631,35 KM/Segi atau setara dengan 9,71% wilayah Kalimantan Selatan, dengan jumlah penduduk yang tersebar di sembilan kecamatan kurang lebih 249.422 jiwa. Terdiri dari 126. 954 jiwa adalah penduduk laki-laki, dan 122.468 jiwa adalah penduduk perempuan (Sumber: Tanah Laut dalam angka 2005) merupakan daerah yang subur bagi sektor pertanian dan perkebunan. Setidaknya saat ini, Tanah Laut surplus dalam panen. Sesuai data dari dinas Pertanian setempat, yaitu, untuk komoditas padi tercatat hasil panen pada 2005 mencapai 124.554 ton sedangkan jagung mencapai 55.839 ton. Belum lagi hasil laut. Dinas kelautan dan perikanan Kab. Tanah laut mencatat selama tahun 2005 jumlah dan nilai tangkapan ikan laut secara umum, mencapai 38.867,90 ton. Kemudian jika kita bicara kandungan emas yang ada di bukit – bukit di hamparan Tanah Laut. Kesimpulannya, Tanah Laut adalah mutiara khatulistiwa yang harus dijaga sumber daya alamnya. Sayangnya Bupati – Bupati terdahulu, dalam memimpin Tanah Laut, sebagian besar, tidak mempunyai wawasan global. Sehingga Tanah Laut jadi salah urus, tak jelas arah pembangunannya, dan yang jelas akibat dari kepemimpinan dengan
gaya tersebut, dampak buruknya, saat ini dirasakan oleh masyarakat banyak, sedangkan dampak baiknya hanya untuk segelintir manusia yang tamak saja. Jangankan memikirkan rakyat Tanah Laut seluruhnya. Memikirkan sebagian urusan masyarakatpun tidak. Misalnya, pendidikan. Sebagai pemimpin, tentunya mereka paham kenapa Tanah Laut perkembangannya tidak pesat seperti Banjarbaru. Persoalannya jelas pada SDM. Berikanlah solusi. Bukan justru kondisi seperti itu dijadikan kesempatan untuk membodohi dan menipu masyarakat. Tidak adanya keinginan membangun Tanah Laut inilah yang menjadi sumber ketertinggalan Tanah Laut dari daerah lainnya. Seharusnya, pemerintahan yang baik, adalah turut memikirkan bagaimana pembangunan Tanah Laut selanjutnya. Bukan membiarkan kondisi daerah yang tergolong kaya ini, menjadi rebutan para cukong yang ingin mengeruk kekayaan tambang semena-mena. Sebenarnya jika pemerintah daerah punya itikad baik, mudah saja menyiapkan SDM yang unggul. Tak perlu merekrut orang-orang dari Jawa. Misalnya, buatlah Program beasiswa bagi para pelajar yang benar-benar berprestasi dan punya keinginan membangun Tanah laut, tentu dengan seleksi yang ketat. Sebab proses seleksi salah satu point menentukan. Jangan sampai calon penerima beasiswa tidak punya Visi dan Misi ke depan. Kemudian setelah itu berikan kesempatan untuk menimba Ilmu seluas-luasnya, dengan catatan sesuai dengan anggaran daerah, Beri mereka kesempatan dan penghargaan karena keilmuannya, untuk mengabdikan diri di sini. Atau buat lembaga pendidikan yang berbasis link and match, lembaga pendidikan yang berbasis teknologi. Seluruhnya gratis. sebab tujuannya menghasilkan SDM yang handal. Jika dalam hal ini Pemda Tidak mampu, ajaklah pihak ketiga untuk bersama – sama mewajudkannya. Terutama perusahan Tambang dan kelapa sawit, yang jumlahnya puluhan. Jika tidak mau, sebagai pemegang kekuasaan di daerah, Pemerintah setempat, bisa bertindak tegas, dengan tidak memperpanjang izin usaha perusahaan tersebut. Saya yakin dengan cara itu, perlahan tapi pasti Tanah laut akan sejajar dengan kota-kota besar di Indonesia.
Kenapa harus dengan cara membuat program unggulan dalam bidang pendidikan? Bagi saya ini mutlak dilaksanakan, untuk mengejar ketertinggalan Tanah Laut. Jika selama ini pemda memberikan beasiswa kepada pegawainya untuk melanjutkan ke jenjang S2, menurut saya bagus. Tapi lebih baik lagi jika pemerintah daerah TALA memikirkan juga mereka yang cerdas, namun kesulitan untuk melanjutkan studi. Jangan biarkan mereka menjadi beban pemerintah, karena setelah lulus SMU, mereka tidak punya pekerjaan. Sekedar diketahui, menurut catatan dinas pendidikan Tanah Laut tahun 2005, tingkat pendidikan di sini, untuk tingkat Sarjana, hanya 1.235 orang, Sarjana Muda sebanyak 348 orang dan SLTA sebanyak 3.964 orang. (sumber : Tanah Laut dalam angka 2005) Bisa anda bayangkan betapa rumitnya mengelola daerah yang mempuyai potensi Sumber daya Alam yang luar biasa, separti Tanah Laut ini, tapi SDM yang ada minim, sangat memprihatinkan! apa jadinya Tanah Laut ke depan. Jika pemimpinnya, secara kualitas keilmuan tidak mempuni. Pemimpin yang modalnya hanya julukan “Putra daerah”. Padahal modal putra daerah saja, tidak memberi kontribusi apa-apa terhadap pemimpin itu. Sebab memimpin adalah seni.
Ada berbagai macam strategi, ada keberanian, dan siap menaggung resiko, apapun namanya.
Momentum pilkada ini menjadi sesuatu yang berharga bagi masyarakat Tanah Laut yang menginginkan perubahan mendasar. Dalam kerangka sandang, pangan dan papan. Pilkada akan menentukan perjalanan
lima tahun ke depan. Hati – hatilah dengan janji-janji, kata-kata manis calon bupati waktu kampanye. Jangan percaya begitu saja. Jangan sampai terjebak pada slogan, isu dan propaganda yang membuat kita terlena, lupa. Apalagi jika yang mengucapkan dulunya pernah menjadi pejabat di Tanah Laut. Jika belum tertunaikan tagih dulu janjinya. Baru boleh janji lagi, Karena kita hanya ingin bukti, bukan janji gombal. Gunakan kekuatan untuk tawar menawar, karena politik tidak selalu hitam dan putih, kadang-kadang abu-abu. Sebab itu, buka hati, pakailah nurani, kepada siapa nanti pilihan kita berikan. Jangan sampai salah pilih. Kini saatnya kita pilih pemimpin yang bervisi global sehingga Tanah Laut berkembang, tidak kalah dengan daerah lainnya. Pemimpin yang benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat. Pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang minta dilayani. Bukan pula pemimpin karbitan. Apalagi, pemimpin yang direkayasa melalui penokohan. Sebab model-model pemimpin seperti itu, akan ada pamrih setelah dia menjadi pejabat. Sebab cost yang dikeluarkan terlalu tinggi. Sehingga ketika naik menjadi pejabat, yang dipikirkannya adalah, bagaimana caranya mengganti uang yang telah dikeluarkannya. Secara garis besar pemimpin yang bervisi global, biasanya, mempunyai talenta dalam mengatur, memutuskan dan menjalankan roda pemerintahan. Dalam menjalankan pemerintahannya, pemimpin seperti ini, akan memimpin dengan hati. Biasanya tercermin dalam tindakannya. Misalnya,

  • Dalam mengambil keputusan selalu mengedapankan hukum-hukum Allah.

Dengan melihat manfaat dan mudharat terhadap implikasi kebijakan yang dibuat bagi masyarakat. Dengan kata lain kebijakan yang diambil pro rakyat banyak, bukan pro keluarga dan kerabatnya, golongannya,maupun partai, dll.

  • Menyayangi rakyatnya, dalam arti sebenarnya.

Banyak pejabat yang tidak menyayangi rakyatnya. bahkan waktu untuk mengunjungi rakyatnya pun selalu dikatakan tidak ada. Padahal para pemimpin umat Islam, selalu mempunyai waktu yang lebih banyak bagi rakyat yang dipimpinnya. Misalnya, Umar bin khatab, setiap malam beliau melakukan inspeksi di seluruh daerah kekuasaannya, mencari tahu keluhan rakyat, kebutuhan rakyat. Bukan Asal Bapak Senang.

  • Menjalankan amanahnya dengan penuh ke-ikhalasan dan kesabaran.

Pasti, persoalan pemimpion lebih rumit dan lebih komplek dibanding dengan rakyat. Sehingga perlu ke ikhlasan dan kesabaran ekstra dalam menghadapi ujian pemerintahan.

  • Menjadi tauladan masyarakat yang dipimpinnya.

Sebuah keniscayaan, jika pemimpin menjadi tauladan. Jika pemimpin tidak bisa memberikan qudwah (keteladanan yang baik) tentu masyarakat yang dipimpinnya akan meniru langkah-langkah sang pemimpin istilahnya “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

  • Menjadi problem solver bagi rakyatnya

Seorang pemimpin berkewajiban menjadi pelindung bagi rakyatnya yang diliputi ketakutan, memberikan solusi terhadap maslah yang dihadapi rakyatnya, bukan justru pemimpin menjadi Part of problem. Lalu kemana masyarakat mengadu dan mengeluh? Kira-kira itu yang dapat dijadikan sebagai gambaran dalam PILKADA TALA nanti. Jangan sampai terulang sejarah yang tidak berpihak kepada rakyat. Sejarah pahit itu harus di kubur, jangan sampai bangkit kembali. Sebab semua tahu, yang menjadi korban dari sejarah pahit itu, tak lain dan tak bukan adalah: kita, rakyatnya!. Akhirnya, kepada seluruh elemen masyarakat Tanah Laut, jangan berpangku tangan, jangan hanya jadi penonton, bergeraklah, jangan berdiam diri. Perjuangan masih panjang. Buatlah sejarah bagi Tanah Laut. Sebab kita adalah tulang punggung pembangunan di Tanah Laut. Bukan siapa – siapa. Sekarang, sedang apa anda? tunggu apalagi, ayo tuntaskan perubahan!Wallahu’alam. Nama : Danang WisaksonoAlamat : Komplek AMACO JLN. JAMBRUT NO 11, BANJARBARU

Hp. 0813.484.05.485

Pekerjaan : WIRASWASTA

NO. REKENING : 601923 904 3207899 BMI cab.
Banjarmasin (Shar – e)

5 pemikiran pada “MENCARI BUPATI BERVISI GLOBAL (MENUJU PILKADA TANAH LAUT 2008)

  1. Pilkada.info : Informasi dan Berita Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia
    Silakan post berita-berita tentang pilkada di situs pilkada.info
    Mari berikan berikan berita dan informasi yang benar kepada pembaca dan calon pemilih.

    Salam,
    pilkada.info

  2. assalamualaikum wr.wb.

    terus terang saya terkesan dengan tulisan anda..kebetulan saya adalah orang TALA asli, dan sudah bertahun-tahun hidup dan tinggal disana..april nanti saya akan menggunakan hak pilih saya, yang tentu saja tidak akan saya berikan kepada calon bupati yang tidak kompeten dan layak di daerah TALA ini..
    Langsung saja, selama beberapa tahun terakhir ini, saya mulai menyadari dan merasakan banyak perubahan yang telah terjadi di TALA..bahkan sangat jauh berbeda..mulai dari fisik, perekonomian, kerohanian, bahkan sosial kemasyarakatannya..
    Perekonomian, saya mendengar bahwa pendapatan penduduk perkapita di kabupaten yang kaya ini meningkat tajam, dan sudah melampaui Banjarmasin sebagai ibukota propinsi. Perekonomian rakyatterasa sangat menggeliat, baik itu disektor perdagangan, perkebunan, pertanian..bahkan salah satu penjual barang-barang sport di pasar Tepandang Pelaihari berujar..”dulu tidak ada orang yang mau beli raket badminton bermerk dan mahal, sekarang.. hampir hampir semua orang mencarinya dan mampu membayar..” Ini mencerminkan daya beli masyarakat TALA sdh meningkat. Selain itu, Ruko-ruko (rumah toko) dan rumah makan sudah banyak bertebaran….ini membuat saya merasakan saya sudah hidup di ‘kota’ sebenarnya…tidak dikota yang dulunya kalau malam gelap gulita akibat kurangnya penerangan, sepi dan hampir tidak ada aktifitas apabila lewat dari jam 9 malam..

    Kerohanian,…saya seorang muslim, dan saya sangat mensyukuri hidup dilingkungan masyarakat TALA yang mayoritas beragama Islam..Kalau boleh membandingkan, dulu saya merasa aktivitas kerohanian di TALA masih minim, dalam artian sepi peminat..mungkin saja ini dikarenakan karena pemimpinnya (bupati) yang kurang mengedepankan/mengutamakan islam di pemerintahannya..sebagai contoh sekarang…dibangunnya mesjid Syuhada yang Subhanallaah…sangat megah, besar dan indah…sekarang ini menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk mengikuti pengajian-pengajian.,..yang kalau anda bisa liat pengunjungnya bisa mencapai ribuan..

    Pertanian..meningkatnya pertanian seperti yang anda sebutkan sebelumnya, memang bukan kabar burung…sekarang banyak petani di TALA merasakan hidup berkecukupan..bahkan sudah cukup untuk mengkredit kendaraan (motor)..ini tidak lain saya rasa karena pemimpinnya mampu mencari jalan untuk rakyatnya terutama petani, yang selama ini selalu dipermainkan oleh para pembeli/tengkulak, apakah itu harga, peminjaman alat, traktor dsb..namun, saya melihat sendiri, pemda TALA telah menyediakan berbagai alat pertanian, gudang penyimpanan, dan dana talangan untuk stabilitas harga…sebelumn2nya..tidak ada bupati yang mampu berpikir seperti itu bukan???

    Nah yang paling membuat saya sangat terkesan pada bupati sekarang (akhirnya jujur..) kemampuan beliau meningkatkan PAD TALA yang sebelumnya hanya Rp. 6,5 milyar menjadi Rp. 42 milyar diera beliau menjabat..memang sebelumnya saya berfikir, beliau menjual kekayaan alam kita, dan bisa saja dia menikmatinya sendiri beserta keluarga2nya..tetapi setelah saya kaji, sekarang ijin memberikan lahan kepada pengusaha tidak semudah dulu, dan lebih ketat..selain itu, pengadaan reklamasi pun wajib dilakukan..dan kalau bol;eh jujur, situasi daerah kita tidak berbeda jauh dengan daerah2 dibagian indonesia yang lain…bahkan ada beberapa kepala daerah mengatakan..”kalau potensi daerah kita adalah kekayaan, kita harus bisa menggunakan kekayaan itu untuk kemakmuran rakyat.,..kita harus mencarikan jalan dan alatnya bagaimana itu dapat berguna bagi rakyat..”
    Nah, sekarang saya jadi berfikir..kalau memang TALA mempunya potensi alam yang besar..dan ini tentu tidak diketahui baru2 saja..bahkan sudah bertahun2 lamanya…BERARTI, kemana pendapatan yang seharusnya didapat pada tahun2 sebelumnya…apakah memang tidak tergali (karena kurangnya pengetahuan pemimpinnya), atau adanya ketamakan, keegoisan, dan pembodohan yang dilakukan kepada bumi TALA yang kita cintai ini..

    Akhirnya..Sebagai orang yang kecil, saya mengaku bangga menjadi masyarakat TALA..mungkin slogan ‘putra daerah’ yang dielu2 kan bagi anda tidak berarti dan bahkan menjebak masyarakat, tetapi menurut saya ‘putra daerah’ tentu lebih mempunya rasa memiliki dan mencintai daerahny lebih dari yang bukan putra daerah…

    terimakasih,

    mirwan

  3. Kalau ngga kita, siapa lagi yang peduli pada daerah kita.
    Ayo, kawan-kawan, sampaikan saran dan masukan, pemikiran dan gagasan untuk daerah tercinta.

  4. salam…..

    banyak hal & fenomena di TALA, positif maupun negatif,
    Idealis itu perlu, tpi pahit Rasanya.
    TALA memerlukan pemuda2 yg idealis, yg mengerti akan perubahan,
    bukan jabatan.

    tak banyak menuntut, tpi apa yg telah diberikan TALA untuku..?
    mahasiswa asal TALA yg kuliah di UIN JOGJA -Pendidikan Fisika 2006
    calon guru… nyari beasiswa gak nemu-nemu. ahirnya… satu2nya Mahasiswa dari TALA yg hidup+kuliah sambil jadi TAKMIR MASJID di blakang PLAZA AMBARUKMO.
    ya….. nasip!!!!

    IPMATALA JOGJA pun Pasang surut. tpi tetap hidup!!
    karna org2 idealis, yg siap menelan pahitnya idealis!!

    kelak !!! akulah yg akan membuat pERUBAHAN !!!!!!
    HARAPAN ITU MASIH ADA

  5. info untuk PARA PEJUANG MUDA YG MAU LANJUT STUDI KE JOGJA.
    SILAHKAN HUBUNGI KAMI DI ALAMAT BERIKUT

    IKATAN PELAJAR & MAHASISWA TANAH LAUT (IPMATALA) YOGYAKARTA
    JL. PURWANGGAN TLP. 0274 562702

    Nursahid
    jl.Nologaten Masjid Baiturrahim No 75 Catur Tunggal
    .Depok sleman DIY

    UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
    Fak.SAINSTEK
    Pendidikan Fisika 2006

    akgsahid@yahoo.co.id
    08522 8982 941

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s