SELAMAT DATANG PEMIIHAN REKTOR KU

Berdiri di tepi jaman.

Luka bernanah dan muntahan putih pucat, terlihat.

Apakah cita telah menjadi kebekuan.

Lengkingan suara akan perubahan,

Tak terdengar lagi.. tuan!

Apakah perubahan sebuah kenistaan..

Selamat datang pemilu rektor! kalimat yang seharusnya di dengungkan untuk menjadi pembicaraan yang hangat dari seluruh rekan – rekan civitas akademika di univ. lambung mangkurat bahkan seharusnya lebih hangat dari pemilu legislatif dan presiden karena hasil dari pemilu rektor ini akan sangat dekat dampaknya dengan kita para civitas akademika. Agenda 4 tahunan yang di selenggarakan oleh univ. lambung mangkurat yang secara idealnya adalah sebagai sebuah proses regenerasi kepemimpinan lembaga dengan harapan pemimpin baru tersebut dapat membawa univ. lambung mangkurat ke arah yang terus lebih unggul dalam aspek apapun secara ruang kelembagaan.

Mencoba mengutip Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 67 tahun 2008 pasal 8 ayat 1 di sebutkan bahwa pemberian pertimbangan calon rektor di lakukan melalui rapat senat Perguruan tinggi yang di selenggarakan khusus, selambat-lambatnya 5 bulan sebelum masa tugasnya berakhir. Dalam hal ini yang perlu untuk di pertanyakan apakah hal ini sudah di lakukan oleh senat unlam? Karena fakta lapangan yang mengemuka adalah dalam konteks kuantitas dan kualitas pembicaraan di kalangan civitas akademika unlam, yang di sini salah satunya adalah mahasiswa, topik ini tidak begitu kencang terdengar dan menyeluruh untuk menjadi buah bibir apa lagi untuk melakukan sebuah proses keterlibatan. sehingga hal ini dapat menimbulkan banyak asumsi yakni ada kemungkinan mahasiswa tidak di libatkan sama sekali dalam sebuah alur pemilu rektor misalkan di tanyakan pendapat, sumbang saran bahkan kehendak untuk sebuah proses awal dan Akhir dari pemilu rektor atau asumsi yang lain mahasiswa hanya di libatkan ketika hari pelaksanaan pemilihan, yang mungkin juga hal ini pun sangat di batasi bentuk keterlibatannya karena tidak sempat lagi untuk membangun proses tawar (Bargaining Position) terhadap calon rektor kedepan dan senat unlam.

MAHASISWA ; PEMILU REKTOR 2005, BAGAIMANA 2009 INI ?

Pemilu Rektor tahun 2005 mahasiswa secara fakta memang di libatkan tetapi ini hanya di proses penjaringan calon saja yang dimana hal ini di atur dalam Keputusan rektor Univ. Lambung mangkurat No. 385/JO8/KP.2005 yang dinyatakan dalam bab III prosedur pemilihan calon rektor Pasal 6 ayat 5 bahwa Hasil pemilihan di tingkat Fakultas dan rektorat melalui perolehan suara, di olah berdasarkan persentase terhadap jumlah pemilih (dalam dua digit) yang kemudian di beri bobot masing – masing : untuk dosen 50%, Mahasiswa 30 %, dan Tenaga Administrasi 20 %. Tetapi untuk pasal 6 ayat 5 jika di lihat secara Non Normatif untuk aspek sosiologis sungguh berlawanan dengan Bunyi ayat 4 keterlibatan mahasiswa krena pada saat itu keterwakilan hanya di wakili Oleh BEM dan BLM fakultas saja sedangkan untuk Lembaga UKMU (unit kegiatan Mahasiswa universitas) ketika itu tidak di libatkan. hal ini dapat di lihat Bunyi Ayat 4 bahwa kriteria pemilihan untuk dosen adalah tenaga edukatif yang berjabat Fungsional; Tenaga adminitrasi adalah penjabat struktural di fakulltas dan rektorat serta mahasiswa adalah pengurus BEM dan BLM.

Sehingga jika kita boleh jujur untuk melihat fakta real lapangan masih ada lembaga BEM dan BLM Fakultas yang kala itu belum dapat menjalankan dan meregenerasikan roda keorganisasiannya apalagi untuk menuju sebuah jalan lembaga orgnisasi yang ideal, sehingga ada sebuah pesemistik dalam melihat kala itu apakah BEM dan BLM fakultas yang dapat hak suara itu akan dapat merepresentasikan suara dari masyarakatnya (mahasiswa fakultas) di karenakan dengan kondisi kala itu tentunya akan terjadi subjektifitas penilaian terhadap calon rector jagoannya sehingga hak suara yang diberikan untuk penjaringan calon rector yang di pilihnyapun menjadi salah alamat atau tertuju kepada calon rektor yang tidak pro mahasiswa terhadap kehidupan kemahasiswaan baik untuk hal akademik maupun non akademik.

Evaluasi pemilu rector 2005 untuk agenda keterlibatan mahasiswa, berkaca dengan salah satu sudut pandang kondisi kala itu itu untuk kualitas lembaga maka tentunya ada sebuah hal yang harus di siapkan oleh rekan – rekan mahasiswa untuk menghadapi pemilu rector 2009 agar kedepan terjadi proses posisi tawar yang jelas antara mahasiswa dengan para calon-calon rector yang dimana tentunya fokus awal adalah mencoba menggali informasi dan kedepan membangun model tanggung jawab (akuntabilitas) yang nyata dari para calon rector tersebut terhadap kondisi kemahasiswaan unlam baik secara akademik maupun non akademik sehingga harapannya ada sebuah perubahan kondisi kehidupan kemahasiswaan yang lebih berdaya bukan di perdaya kedepannya.

CATATAN KRITIS UNTUK KEDEPAN

Dalam rencana strategis Univ. Lambung Mangkurat 2006 – 2010 (Renstra UNLAM 2006 – 2010) di tetapkan tujuh tujuan lembaga univ. Lambung mangkurat upaya pencapaian guna menanggulangi berbagai permasalahan di masyarakat, yakni :

1. Peningkatan kualitas dan kuantitas Dosen

2. Peningkatan sarana/prasarana pendidikan

3. Peningkatan kinerja pembelajaran

4. Membangun kreatifitas ilmiah mahasiswa

5. Peningkatan keterampilan penunjang mahasiswa

6. Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi

7. Peningkatan peran dan fungsi perpustakaan dalam proses pendidikan, penelitian dan P2M (program Pengabdian Masyarakat)

Dari tujuh Renstra itu objek atau sasaran itu adalah mahasiswa an sich yang lebih dominan sehingga disni yang menjadi catatan kritis palin penting adalah adanya sebuah catatan penilaian kinerja tertulis hasil sebuah evaluasi maju mundurnya pelaksanaan Renstra itu mauapun hal yang penting lainnya dari mahasiswa itu sendiri yang dapat di berikan kepada calon-calon rector yang akan bertarung dengan harapan catatan kritis dari para mahasiswa itu dapat di lakukan oleh rector terpilih kedepan. Jujur Dari Renstra itu saya pribadi belum dapat merasakan dampak yang substansial dan nyata terhadap perubahan Univ. lambung mangkurat itu sendiri malah yang lebih menyakitkan dalam Renstra tersebut tertulis akan melaksanakan UU BHP Terhadap unlam karena Desakan UU Tersebut yang memang mempunyai sifat memaksa. Dalam Catatan kritis saya Sosok Rektor ideal kedepan adalah orang tidak Pro Bhp atau minimal dia dapat mencari jalan pilihan lain unutk tidak unlam di BHP kan atau selemah – lemah nya iman adalah rektor yang baru dapat menemukan formula yang Masif untuk menjalankan BHP tanpa mahasiswa yang hars di korban yang dikorbankan kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s