CITA HUMANIS DEMOKRATISASI KAMPUS UNIV. LAMBUNG MANGKURAT

Demokrasi hadir untuk dapat memberikan rasa keadilan bagi setiap individu maupun lembaga, walaupun dalam perdebatan tentang rasa keadilan selalu akan di bawa kearah yang relative dan di katakana hanya milik tuhan.  Pembangunan demokrasi hari ini terus di dorong keranah demokrasi yang substantive serta di sisi yang lain secara procedural pun terus di perkuat sehingga sinergisasi antara demokrasi Prosedural dan Substantif telah terjadi maka  itulah cita Humanis demokrasi dapat memberikan rasa keadilan bagi semua manusia dan lembaga.

Awal Pertanyaan apakah ada komitmen pembangunan dan penguatan cita humanis demokrasi dalam wilayah Kampus secara praksis hari ini teruatama di  kampus Univ. Lambung Mangkurat ?

Jawabannya untuk hal itu  telah di lakukan pada tingkat ilmu pengetahuan (teori) namun dalam semangat keseharian hal itu belum terasa sangat signifikan dikarenakan ini adalah sebuah perlawanan perspektif,pemahaman dan keyakinan.  Pada perspektif keseharian demokrasi lebih di pandang sebagai sebuah pembicaraan milik orang – orang di bidang ilmu social dan politik atau yang memiliki rasa serta orientasi social politik sehinggga ketika bicara demokrasi, secara mudah di apresiasi dengan sikap  sebagai sebuah tindakan politik praktis untuk menuju kekuasaaan, hal ini di karenakan realitas politik Indonesia, daerah maupun kampus, politik  terlalu terkesan terlalu negative oleh sebagian besar masyarakat, baik masyarakat umum maupun masyarakat kampus hari ini.

Padahal di dalam konsep demokrasi ada nilai-nilai universal yakni  Kemerdekaan, Persamaan, dan Keragaman namun hal ini lah yang kurang di sampaikan kepada masyarakat umum sehingga belum menjadi pemahaman apalagi keyakinan.  Sehinggga dengan pemahaman masyarakat  yang minim itu lah terkadang di manfaatkan oleh sebagian orang yang paham namun di pelintir untuk tujuan sempit misalkan melanggengkan keinginan / obsesi pribadinya menuju pentas kekuasaan sehingga realitas  terjadi ini membangun persepsi bahwa perubahan menuju tataran yang ideal dan menghadirkan kebaikan pada setiap sendi – sendi kehidupan akan di rasakan sangat pesemistik di karenakan actor – actor yang paham demokrasi itu sendiri telah mengkhianati demokrasi.  Inilah tantangan yang nyata dalam melakukan demokratisasi secara cultural dan structural sehingga konsekuensi logisnya adalah harus ada sebagian anak manusia yang berkomitmen tinggi dalam membangun demokrasi dan bersikap demokratis dalam melawan actor pengkhianat demokrasi tersebut baik dalam koridor yang besar maupun koridor terkecil yakni kampus.

MAHASISWA DAN MASA DEPAN DEMOKRATISASI

“Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya…”

(Ust. Rahmat Abdullah)

Di tengah kebuntuan terhadap perubahan lebih baik karena realitas yang tidak sesuai dengan cita logis ideal maka di saat itulah ada sebuah element pendobrak kebuntuan tersebut.  Pendobrak kebuntuaan itu kecenderung terbesar adalah di lakukan oleh para pemuda dan di dalam elemen pemuda itu ada Mahasiswa yang secara umum di representasikan sebagai sebuah kaum muda yang memiliki intelektualitas dan sistematis dalam pemikiran sehingga mahasiswa tentunya memiliki sebuah beban moral yang lebih berat di banding pemuda yang lain melakukan perubahan.

Proses demokratisasi di kampus terutama di Univ.. Lambung mangkurat, saya merasa telah terjadi pengebirian dengan berbagai macam cara mulai dari pengebirian aturan, teknis pendidikan, pemilihan kepemimpinan hingga berujung pada stagnansi dalam mendengar aspirasi.sebagian besar masyarakat kampus. Mahasiswa secara das sein sebagai masyarakat terbesar dalam kampus namun ternyata tidak memiliki lagi keberanian untuk bersuara dan bergerak secara terbuka, luas dan besar tapi keberanian itu lebih berani di suarakan di belakang pemegang kebijakkan tanpa mereka tau sehingga inilah  Budaya Bisu seperti apa yang pernah di katakan oleh Paulo Freire telah terjadi di kampus.

Mengutip pandangan Paulo Freire menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga golongan, yakni: Kesadaran Magis (magical consciousness), Kesadaran Naif (naival consciousness) dan Kesadaran Kritis (critical consciousness).  Dalam konteks kesadaran kritis  itu lah pada sebagaian besar mahasiswa tidak terjadi sehingga ini pun menjadi tantangan demokratisasi kampus.

Model pendidikan yang khas di tawarkan oleh paulo freire dalam membangun pendidikan gerakkan menuju kesadaran kritis agar para mahasiswa dapat menjadi pendobrak kebuntuan tersebut yakni penyadaran, pengorganisasian, aksi dan refleksi yang hal ini sangat relevan dalam pandangan saya agar proses menuju kesadaran kritis itu dapat terbangun kembali di tingkat mahasiswa univ. lambung mangkurat karena hari ini bangunan kemanusian telah sekarat.

Sehingga demokratisasi kampus dengan cita humanis nya itu dapat di wujudkan yang tentunya dampak terbesar nya adalah terbangunnnya atmosfer kehidupan akademik, daerah dan Negara yang lebih baik

PEMAKSAAN DI RUANG PUBLIK KAMPUS UNIV. LAMBUNG MANGKURAT

“Pengetahuan adalah kekuasaan”
Francis Bacon (1561—1626)

Pemaksaan di ruang public ini di tujukan untuk terjadinya transformasi secara luas dan melembaga kepada mahasiswa dan penegetahuan terhadap sebuah realitas kampus terkini adalah harus dapat menjadi perhatian mahasiswa karena kampus ebagai sebuah laboratorium kecil kehidupan adalah sebuah unutk mengasah kepakaan terhadap ketidak idealan. Dana seperti di katakan franci bacon pengetehuan dan keinginan tahuan adalah alat kuasa untuk melawan.

Pandangan sederhana saya ruang publik akan bicara soal kebebasan, kesetaraan, egalitarianisme, demokrasi, kesejahteraan bersama dan di sisi lain ruang privat bicara soal hak asasi, kekhasan tertentu, keyakinan tertentu, yang seakan-akan berada di balik tirai yang sewaktu-waktu dapat keluar, mendesakkan “kekhasan” tersebut pada ruang publik, menghegemoni, mendominasi wacana, dan pada akhirnya –sebagaimana yang terjadi pada narasi besar terdahulu (modernisme, posmodernisme, dialektika roh dan mitos-mitos besar lainnya) yang berhasil mendesak ruang privat lain sehingga menjadi kepatutan. Melihat dalam kasuistif unlam sebagai kampus terbesar dan tertua di kalimantan selatan dalam wacana demokratisasi kampus, hal harus terjadi adalah sebuah proses pemaksaan pemahaman tentang demokrasi sehingga ini menjadi pemahaman bersama yang tentunya pola pemaksaan yang di maksudkan adalah bukan dengan kekerasan secara fisik.

Karena ketika ruang public tidak di biarkan terbuka maka pembungakamn terhadap jalan demokratisasi kampus akan terus terjadi.

2 pemikiran pada “CITA HUMANIS DEMOKRATISASI KAMPUS UNIV. LAMBUNG MANGKURAT

  1. dan pelajaran pembungkaman terhadap jalan demokratisasi bisa berawal dari kampus, yang berlanjut saat sudah ke luar dari kampus. Tapi, harus tetap yakin, masih luas cakrawala dalam pembelajaran, selama mahasiswanya tidak terkungkung dalam sangkar kampus.

    • Demokrasi mengajarakan sebuah kemerdekaan. Namun Kampus belum bisa melihat dan mengimplementasikan sebuah semangat jaman, sehingga hari yg timbul calon intelektual dengan kehampaan sikap…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s