KEPEMIMPINAN UNTUK KEMANDIRIAN PANGAN SEBAGAI SUPRA STRUKTUR STABILISASI PEMBANGUNAN DI KALIMANTAN SELATAN (Refleksi Untuk Hari Tani dan Pangan Dunia)

Tanggal 24 september adalah di katakan sebagai hari tani nasional (HTN) dan pada tanggal 16 oktober peringatan hari pangan sedunia. Ini lah simbol apresiasi kepada dua hal yang berada dalam satu jiwa yang sampai hari ini fakta tani dan pangan terus menjadi perhatian serius bagi bangsa ini. Dalam wacana pangan, indonesia pun ikut menetapkan target dunia yang agresif hingga tahun 2015 yang sering di sebut sebagai Tujuan pembangunan milenium atau MDGs (milenium development goals) yang di dalamnya ada delapan hal yang harus di capai yakni :

  1. Menghilangkan kemiskinan dan kelaparan ekstrim
  2. Mencapai pendidikan yang universal
  3. Mempromosikan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan
  4. Mengurangi kematian anak
  5. Memperbaikai kesehatan ibu
  6. Melawan HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lain
  7. Menjaga kelesetarian lingkungan
  8. Mengembangkan kemitraan global unutk pembangunan.

Biografi Homo sapiens sapiens (HSS) memang adalah cerita tentang kehidupan pemulung, pemungut dan pemburu yang ditandai oleh kelangkaan pangan yang sangat ketat. Setiap kali hasil pemungutan membaik karena kejutan eksternal yang tidak permanen seperti cuaca yang lebih baik dari biasa dan jarahan perburuan juga melonjak.  satu babak sesudahnya, penduduk manusia naik dan kekurangan pangan menyusul, hubungan genetik yang masih dekat – dekat tampaknya turut meredam pertumbuhan penduduk. Daur seperti itu bertahan selama ratusan ribu tahun dan belakang disebut “ Perangkap Malthusian “. Pada setiap paceklik penduduk pindah ke habitat baru, demikian sampai akhirnya Keturunan HSS menduduki haampir setiap sudut bumi.  Menyusul deglasiasi yang terakhir HSS memulai lembaran baru, beberapa tanaman dan hewan di domestikasi yaitu di jinakkan dan di budidayakan.  Kerentanan pada gejolak alam berkurang setelah manusia dapat memupuk persediaan asal panen budidaya (Simandjuntak, 2008).

Sejak dekade 50 – 60an, pembangunan telah menjadi ideologi baru bagi negara-negara dunia ketiga.  Pembangunan menjanjikan harapan baru bagi perubahan dan perbaikan nasib bagi hidup mereka.  Sepanjang periode ini para ahli mencoba membangun pengetahuan dan teori pembangunan dan modernisasi. W.W Rostow dengan teori pertumbuhannya, David McClelland dan Inkeles dengan teori modernisasinya.

Indonesia sebagai salah satu negara dunia ketiga tidak terlepas dari kebijakkan developmentalisme dan modernisasi yang di paksakan lewat bantuan luar negeri melalui IMF maupun Worl Bank.  Kerana sejak dekade 60 an pemerintah Orde baru menerapkan model strategi pembangunan yang didasarkan pada paradigma pertumbuhan, sutau paradigma yang masih dominan hingga krisis global melanda. Pada dekade 70 an pemerintah menerapka model strategi pembangunan alternatif yang didasarkan para paradigma Pemeretaan (Dewanata dan syaifullah, 2008).

Todaro, 1985 Menyebutkan pembangunan adalah proses multidimensioanl, melibatkan reorganisasi dan reorientasi aspek sosial, ekonomi maupun poltik sedang modernisasi lebih menitik beratkan pada terselengaranya teknologi baru dalam memperoleh efisiensi kerja.

Aspek pembangunan meliputi meningkatnya taraf hidup manusia dengan terpenuhinya kebutuhan, meningkatnya harga diri dan meningkatnya kebebasan untuk memilih barang maupun jasa. (Fattah,2008)

Pulau kalimantan memiliki besar 4 kali pulau jawa  dan pulau terbesar ketiga di dunia setelah greenland dan seluruh pulau irian. Kalimantan adalah pula yang paling unik di antar jajaran pulau yang ada di indoensia. Dikarena pulau kalimantan adalah pulau yang di kelola oleh 3 negara yakni Malaysia, Brunei darusalam dan Indonesia itu sendiri sehingga ini adalah sebuah keunggulan awal dari posisi geografis pulau ini.  Pulau kalimantan yang masuk dalam wilayah indonesia terbagi kedalam 4 Provinsi yakni Kalimantan Barat,Timur, Selatan dan Tengah ini yang luasnya 549.032 Km2 dan luas 28 % dara Seleuruh Luasan negara indonesia.

Provinsi Kalimantan Selatan yakni terletak antara 114º 20’ 49,2‘’ – 116º 32’ 43,4’’ Bujur Timur dan 1º 21’ 47,88’’ – 4º 56’ 31,56’’ Lintang Selatan. Kemudian berdasarkan konstelasi hubungan antarwilayah, provinsi ini berada di posisi sentral di antara kepulauan Nusantara yang menjadikan wilayahnya sangat terbuka dan merupakan jalur arus barang, jasa serta mobilitas sosial yang tinggi, terutama pulau Jawa, Sulawesi dan Bali, bahkan ke beberapa negara lain, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Sebagai salah satu pintu gerbang dari pulau Jawa, Kalimantan Selatan juga menjadi transit arus barang dan jasa dari dan ke provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah sehingga ini memang menjadi sangat strategis, (Kalselprov.go.id, 2009).

Kalimantan Selatan yang terdiri dari 2 kota dan 11 Kabupaten ini memiliki luas wilayah sebesar 37.530 km² dengan jumlah penduduk 3.250.100 jiwa. Kepadatan penduduk sekitar 86 jiwa/km² dengan pertumbuhan sekitar 2,04% pertahun. Agenda dalam penciptaan Kalimantan Selatan yang unggul dan maju, maka sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan yang ditempuh salah satunya adalah “terwujudnya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan Pembangunan daerah yang merata” yang ditujukan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% per tahun. Nilai Pertumbuhan ekonomi Kalsel Perekonomian Kalsel yang prospektif sangat beralasan karena tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Kalsel mampu mencapai 6,23 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 sebesar 6,01 persen triwulan pertama tahun 2009 mencapai angka 4,03 persen (Kalselprov.go.id, 2009).

Struktur ekonomi Kalimantan Selatan tahun 2008 terbentuk dengan kontribusi berbagai sektor. Kontribusi pertanian 22,56 persen; pertambangan dan penggalian 21,84 persen; perdangan dan hotel serta restoran 15,03 persen; industri pengolahan 10,36 persen; jasa 9,03 persen; angkutan dan komunikasi 9,22 persen; kontruksi 6,29 persen; keuangan dan jasa perusahaan 4,82 persen; listrik dan air minum 0,57 persen (Kalselprov.go.id, 2009).

Gambaran diatas jelaslah bahwa kalimantan selatan memiliki potensi pembangunan daerah yang sangat menjajikan untuk terus di tingkatkan dengan tujuan akhir adalah kesejahateraan bagi rakyat kalimantan selatan.

PERTANIAN PANGAN KALIMANTAN SELATAN (Produksi Pertanian Pangan Dan Daya Beli Petani)

Pertanian dalam arti luas yaitu suatu bidang usaha yang mencakup bidang tanaman, bidang peternakan dan pertanian dalam arti sempit yaitu suatu usaha hanya dibidang tanaman (Fatah, 2007).

Manusia tidak dapat hidup tanpa makanan, yang dimana sebgaian besar di hasilkan dari pertanian. menurut data BPS kalimantan selatan laju pertumbuhan penduduk kalimantan selatan tahun 2003 – 2005 1,91 % dan 2005 – 2008 1,49 % terjadi penurunan jumlah penduduk hingga akhir 2008 0,42 % namun ini bukan  berarti proses produksi untuk pemenuhan kebutuhan akan pangan yang baik secara kualitas dan kuantitas tidak menjadi kewajiban untuk selalu tersedia kapan saja dan terjangkau oleh rakyat kalimantan selatan.

Pasal 1 Undang – undang Pangan No. 7 Tahun 1996  menyebutkan Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.

Sehingga Pemenuhan pangan di kalimantan selatan terus di lakukan pembenahan di tengah masalah yang terus membayagi duni pertanian kalaimantan selata.  Komoditi tanaman pangan di kembangkan dan produk unggulan di kalimantan selatan dapat di lihat di bawah ini :

Keragaman Produksi Tanaman Pangan Tahun 2007 – 2008

No

Komoditi

Produksi (ton)

2007

2008*)

%

1. Padi 1.953.868 1.977.789 1,22
2. Jagung 100.957 98.184 (2,80)
3. Kedelai 2.060 3.804 84,66
4. Kacang Tanah 18.214 17.144 (5,87)
5. Kacang Hijau 1.548 1.739 12,34
6. Ubi Kayu 117.322 145.767 24,25
7. Ubi Jalar 31.143 27.706 (11,04)

Sumber : Dinas Pertanian Prov.Kalsel Dalam (Kalselprov.go.id, 2009).

Strategi dan kebijakkan Pertanian pangan Kalimantan selatan dalam peningkatan  Produksi komoditi pangan untuk beras boleh di katakan menunjukkan hasil yang memuaskan di karenakan komoditi Komoditi pangan yakni beras  memiliki tingkat poduksi tertinggi yang dimana beras merupakan makanan pokok masyarakat kalimantan selatan dan Indonesia. Dengan Nilai Produksi sehingga menghasilakn surplus beras memberikan dampak provinsi kalimantan selatan  di katakan berswasembada beras karena menjadi  daerah surplus beras kedua setelah Sulawesi selatan dalam peningkatan produksi beras.

Neraca Beras di daerah sentra produksi tahun 2008 (000 Ton)

No

Provinsi

Ketersediaan

Konsumsi

Surplus

1. NAD 902,9 595,4 307,5
2 SUMUT 1914,0 1809,3 104,7
3. SUMBAR 1108,5 662.3 446,2
4. SUMSEL 1594,8 989,6 605,2
5. BENGKULU 246,7 227,9 18,8
6. LAMPUNG 1303,5 1027,6 275,8
7. JABAR 5690,1 5685,2 4,9
8. JATENG 5175,6 4564,7 610,9
9. JATIM 5347,1 5201,2 145,9
10 NTB 873,8 605,1 268,7
11 KALBAR 757,3 589,0 168,3
12. KALSEL 1109,2 478,8 630,3
13. SULTENG 481,3 337,8 143,6
14. SULSEL 2094,4 1085,5 1008,9
15. SULBAR 181,8 143,3 38,5

Data BPS tahun 2008 menunjukkan Peran sektor pertanian dalam perekonomian Kalimantan Selatan sangat penting, kontribusinya sekitar 27,7% dengan tingkat pertumbuhan 5% per tahun dan sektor terbesar dalam menyerap tenaga kerja.

Persentase Daya Serap Tenaga Kerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama
Tahun 2004-2006

NO

LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA

TAHUN

2004

2005 *)

2006 *)

1

Primer (Pertanian)

48,08

49,15

46,44

2

Sekunder (Pertambangan, Industri, Listrik dan Konsttruksi)

15,61

16,44

14,87

3

Tersier (Perdagangan, Angkutan, Keuangan dan Jasa)

36,31

34,41

38,69

TOTAL

100,00

100,00

100,00

Sumber : Susenas, BPS Prop. Kalimantan Selatan Dalam (Kalselprov.go.id, 2009).
*) Sakenar, BPS Prop. Kalimantan Selatan

Masalah dan tantangan utamanya yang terkait  dengan sektor pertanian antara lain masih banyaknya penduduk yang tergolong miskin, rendahnya  dan lemahnya dukungan infrastruktur.

Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2005-2006

NO

LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA

2005 *)

2006 *)

PDRB Berlaku
(Juta Rp)

Tenaga Kerja
(Orang)

Produktivitas Tenaga Kerja
(Ribu Rp)

PDRB Berlaku
(Juta Rp)

Tenaga Kerja
(Orang)

Produktivitas Tenaga Kerja
(Ribu Rp)

1

Pertanian

7.237.506

742.129

9.752

7.849.542

662.159

11.854

2

Pertambangan & Penggalian

6.454.738

55.018

117.320

7.336.238

45.114

162.616

3

Industri Pengelolaan

4.200.275

130.465

32.195

4.161.349

119.657

34.777

4

Listrik & Air Bersih

163.796

3.820

42.879

175.583

4.765

36.849

5

Bangunan

1.970.413

58.930

33.437

2.218.685

42.519

52.181

6

Perdagangan Hotel Restoran

4.666.308

303.708

15.364

5.060.495

316.990

15.964

7

Pengangkutan & Komunikasi

2.648.543

61.308

43.201

2.952.625

66.308

44.529

8

Keuangan & Jasa Perusahaan

1.310.273

8.529

153.626

1.428.949

9.720

147.011

9

Jasa-Jasa

2.971.221

146.056

20.343

3.285.868

158.695

20.706

TOTAL

31.623.074

1.509.963

20.943

34.469.335

1.425.927

24.173

Sumber: BPS Dalam (Kalselprov.go.id, 2009).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah total nilai produki barang dan jasa yang diproduksi di wilayah (regional) tertentu dalam kurun waktu tertentu (satu tahun).  Jika kita lihat secara kasat mata melalu data BPS diatas pertanian masih menjadi Primadona dan terbesar untuk kotribusi PAD kalimantan selatan dan memiliki angkatan kerja terbanyak secara kuantitas namun di lihat secara kualitas adalah pendapat sektor pertanian melalui data BPS Untuk PDRB Pertanian adalah sektor yang memberikan nilai Produktivitas tenaga kerja terkecil per tahun di banding sektor yang lain untuk sektor pertanian sebesar 11,85 juta rupiah per orang yang dimaknai nominal yang di dapat oleh seorang petani dalam satu tahun masih sangat rendah di banding dengan lapangan pekerjaan lainnya. Inilah hal yang menjadi keperihatinan di dalam sektor pertanian karena petani nampak seperti alat dan mesin produksi yang di eksploitasi untuk pemenuhan kebutuhan dan ketersedian pangan orang – orang kota sedangkan petani itu sendiri harus menghabiskan waktu untuk bekerja keras untuk pangan sedangkan sandang bagi petani bukalah skala propritas bagi mendukung kehidupan nya atau dengan mudah dikatakan petani masih belum dapat berdaya unutk mempersiapkan kebutuhan kesehatan dan pendidikannya.

Sehingga ini perlu segera terus di lakukan proses rasionalisasi kebijakkan yang lebih baik guna menjaga semangat para petani dan dengan profesi itu dapat meningkat daya beli yang lebih baik lagi bagi para petani umumnya dan khususnya petani miskin.

KEPEMIMPINAN UNTUK KEDAULATAN PANGAN

Prioritas pembangunan Kalimantan Selatan tahun 2008 adalah penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja, revitalisasi pertanian terutama di tingkat pedesaan, pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur dan peningkatan kualitas SDM .

Definisi atau pengertian tentang kedaulatan pangan banyak sekali dapat kita temukan. Suryana, (2003) mendefiniskan Kedaulatan pangan adalah hak setiap orang, kelompok-kelompok masyarakat dan setiap negara untuk menentukan sendiri kebijakan pertanian, ketenaga-kerjaan, perikanan, pangan dan tanah, yang berwawasan ekologis, sosial, ekonomi dan budaya yang sesuai dengan kondisi khas dan kedaerahan mereka.

Menurut RPJPN 2005 – 2005 Kedaulatan pangan adalah kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memeproleh pangan yang cukup, mutu yang layak, aman dan halal yang di dasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasi pada keanekaragaman sumber data lokal.

Reformasi sistem pemerintahan di indonsia telah menghasilkan anatara lain : UU Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daeraeh dan PP Nomor 25 tahun 2000 tentang kewenagan provinso sebagai daerah otonomi, sehingga ini tentunya adalah prospek dan arah pemabngunan pertanian pun berada sepenuhnya di bawah pemerintah daerah (Pemda). Undang – undang ini menyebutkan empat bidang kebijakkan pegembangan pertanian startegis yang di percayakan secara penuh kepada pemda.  Empat kebijakkan tersebut adalah : 1. Promosi ekspor komoditi unggulan daerah. 2. penyediaan dukungan kerjasamaantar kabupaten / kota  dalam bidang pertanian. 3. penetapan kawasan pertanian terpadu berdasarkan kesepakatan dengan kabupaten / kota. 4. pengaturan penggunaan air irigasi dan penyediaan dukungan pegembangan perekayasaan teknologi perikanan serta sumber daya perairan lainnya.

Tahun 2008 Kalimantan selatan di bawah kepemimpinan Bapak Rudi Arifin menerima penghargaan ketahanan pangan dan peningkatan produktivitas beras nasional dari presiden ini sebagai bentuk apresiasi yang telah dapat membentuk suatu ketahanan pangan dan meningkatkan produksi. Memang harus kita katakan adalah bahwa itu adalah sebuah prestasi namun di sisi yang lain kita pun  jangan pernah lupa jika kita kembali kepada definisi ketahanan pangan menurut UU No.7 tahun 1996 tentang Pangan. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Jika kita memperbandingkan definisi antara kedaulatan dan ketahanan pangan maka terdapat permaknaan fungsi yang lebih dalam untuk kedaulatan pangan di banding dengan ketahanan pangan sehingga ini dapat di simpulkan bahwa kepemimnan poltik Rudi arifin untuk pembangunan sektor pertanian pangan masih terus dan harus di banguan ke arah kedaulatan pangan.

Zeigler (2005) mengatakan Ada dua kebenaran fundamental yang taka dapat di bantah yang di hadapi oleh peneliti pertanian adalah :

  1. Penduduk Global yang treus bertambah
  2. Kita harus memproduksi semkain banyak pangan unutk mneyediakan makanan

Politik pangan adalah sebuah hal yang menuntut keseriusan dalam hal penegelolaan dan pembangunannya di karena kembali kembali fungsi asasi dari pangan itu sendiri sebagai pemenuh kebutuhan perut. Analogi mudahnya adalah ketika perut lapar maka orang akan sulit melakukan aktivitas bahkan karena kekurangan pangan maka dapat berdampak kekacuan sosial yang dapat menumbangkan kekuasaan seseorang.

sektor pertanian ini terus berbenturan dengan sektor pertambangan terkait dengan ketersedian lahan dan tanah yang dimana sama-sama menjadi media penunjang dalam hal pembangunan kedua sektor ini sehingga ini tentunya tidak menutup kemungkinan akan menjadi konflik yang serius dalam hal menentukan kebijakkan pembangunan kalimantan selatan.

Masalah klasik namun serius kedepannya yang menjadi tantangan bagi kepemimpinan di kalimantan selatan terkait dengan penguatan pertanian lokal kalimantan selatan adalah terkait lahan (koversi lahan produktif), pertambahan penduduk yang menjadi keniscayaan sehingga ini pemenuhan pangan pun harus di siapkan, Kapasitas Modal Sosial dan Keuangan Petani yang masih kurang, Daya beli pelaku pertanian (petani) yang boleh dikatakan belum memadai dengan jerih payahnya, penanganan tanam hinga pasca panen dan pemasaran pertanian pangan di kalimantan selatan yang belum mengarah ke arah industri karena tidak cukup pertanian daerah ini hanya sebagai penyedia bahan baku (Orientasi Eksport bahan baku) untuk pangan saja sebab ketika industri terbangun maka teknologi pertanian akan menjadi keniscayaan untuk di penuhi sehingga pertanian kalimantan selatan tidak hanya bernilai namun dapat menjadi nilai tambah, Memperluas pola-pola aksesibilitas pangan kepada semua rakyat kalsel sehingga tidak di dengar lagi musibah atau penyakit di karena kan kekurangan pangan sebab aksesibiltas rakyat terhadap pangan berkualitas sulit dan Kondisi lingkungan yang terus melemah (global warming/Pemanasan Global) di karena pembangunan yang tidak memperhatikan kaidah keberlanjutan atau lestari.

Sehingga strategi visi kedepan untuk pembangunan kalimantan selatan akan bermuara kepada pilihan ataukah mensinergisasikan yakni Mengutamakan Surplus Produsen, Mengutamakan Surplus konsumen, mengutamakan penerimaan daerah atau meminimalkan kerugian sosial dan lingkungan.

Daftar Pustaka

Fattah, Lutfhi, 2007.  Dinamika Pembangunan Pertanian dan pedesaan.  Pustaka banua. Banjarmasin

http://www.kalselprov.go.id/pembangunan/kebijakan-pembangunan-pertanian. Di Akses Tgl 1 Oktober 2009

Pandu Dewanata dan Chavchay Syaifullah, 2008. Rekonstruksi Pemuda. Kementerian Negara dan Olahraga. Jakarta.

Simandjuntak, Djasman. S, 2008. Refleksi Karakter Bangsa “ Ekonomi Dunia Imperatif Pemupukkan Modal Manusia Yang Progresif “. Forum Kajian Antropologi Indonesia. Jakarta. Hal. 150

Suryana, Achmad. 2003. Kapita Selekta Evolusi pemikiran kebijakkan ketahanan pangan. BPFE. Yogyakarta.

Todaro, M.P. 1985.  Economic development in the thirld world, Newyork. Longman

Tata,indra. 2000. mengugat revolusi hijau. Yayasan tirta karangsari Kerjasama Pesticide Action Network (PAN- Indonesia) dan yayasan kehati. Jakarta.

Zeigler, Robert. 2005. Rice Research and Development : Supply – Demand, Water, Climate and Research caapcity. Makalah Seminar IRRI. 12 – 24 September 2005. Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s