MORALITAS SEORANG AKADEMISI

 

MORALITAS SEORANG AKADEMISI

(Antara Idealisme dan Pragmatisme)

Oleh

Ach. Rozani

 

Peneliti itu boleh melakukan kesalahan namun tidak boleh melakukan kebohongan.

Peneliti, penelitian dan ilmu pengetahuan berkait sangat erat karena kemajuan ilmu pengetahuan ditentukan oleh penelitian, sehingga peran peneliti dan penelitian merupakan nyawa bagi dunia pendidikan untuk terus melanjutkan pembangunan umat manusia menuju peradaban manusia yang di katakan Allah bahwa manusia sebagai mahluk ciptaanya yang termulia dan terbaik di muka bumi.

Dulu ketika saya belajar mata kuliah metode penelitian di ajarkan tentang kaidah – kaidah etika sebagai seorang peneliti. Dosen mata kuliah saya mengajarkan, yakni : 1). Kesalahan Ilmiah (Scientific misconduct) dalam etika ini seorang peneliti tidak boleh melakukan penipuan dalam melakukan sebuah penelitian.  Kesalahan ilmiah meliputi Pemalsuan data (Research fraud) dan Mencotek penelitian orang lain (Plagiarism). 2). Merugikan subjek dari penelitian maka seorang peneliti harus melindungi partisipan dan bertanggung jawab terhadap subjek dari penelitian.. 3). Menjaga anominitas dan kerahasian subjek penelitian, dan  4).  Penelitian harus bebas dari subjektifitas sponsor, peneliti harus berani mengungkapkan kebenaran.

Ada dua kelompok pelanggaran etika, yang pertama disengaja berarti si pelaku tahu apa yang dilakukan merupakan pelanggaran dan sepantasnya mendapat sanksi, kedua, tidak disengaja, atau kata Stephan Covey, pelanggaran bawah sadar terutama untuk materi yang pernah dibaca namun tidak sadar atau memang tidak mengetahui batasan etika sendiri.  

. Kesalahan Ilmiah (Scientific misconduct) dalam bentuk mencotek penelitian orang lain (Plagiarism) ini selama 2010 yang terangkat kepermukaan Agung Banyu Perwita (Unpar) sekitar 2 bulan yang lalu dan terbaru M. Zuliansyah (ITB) yang ternyata penelitian yang  di contek pernah di persentasikan konfrensi ilmuwan dunia di chengdu china 2008. sehingga ini keprihatinan mendasar dalam dunia pendidikan terutama perguruan tinggi karena yang melakukan ini adalah orang berada pada strata ahli (expert) dalam bidang studi keilmuannya dengan ukuran bergelar Strata 3 (DR atau P.hD). Dalam pengamatan saya ini hanya lah sebuah fenomena gunung es dalam pelanggaran etika akademis terutama penelitian.  Ketika kita jujur untuk berani  menilai masih banyak pelanggaran etika penelitian dalam bentuk yang lain yang tidak terkuak kepermukaan, tidak hanya dalam hal pencontekkan penelitian saja. misalkan skripsi, tesis, atau disertasi pesanan yang jasa nya terus berkembang dan ada pangsa pasar untuk permintaan hal ini.

Dalam kacamata hemat saya hal ini lebih disebabkan kerangka pikir (paradigma) yang tak tuntas dalam pengajaran  karena faktanya melihat penelitian tak lebih hanya sebuah formalitas saja misalkan untuk orang strata satu untuk mengejar gelar kuliah saja dan segera selesai kuliah dan bekerja atau ketika berdiri sebagai peneliti mandiri (independent) hanya untuk penyelesaian sebuah proyek atau titipan untuk dapat di jadikan basis argumentasi sehingga dapat mempengaruhi opini publik pihak sponsor atau ketika sebagai peneliti di lembaga pemerintah Instansi atau Perguruan tinggi penelitian hanya dipandang untuk sebuah formalitas pengumpulan kredit point agar naik jabatan dan naik gajih. 

Ini lah bentuk sebuah kedangkalan berpikir dalam melihat sebuah penelitian, Seharusnya peneliti memandang penelitian sebagai sebuah mahakarya yang memiliki tanggung jawab sosial yang besar baik bagi peradaban manusia baik individu maupun komunal dan sebagai khazanah kemajuan ilmu pengetahuan sehingga ada atau tidak dampak atau hasil langsung dari sebuah penelitian terhadap objek maka sebuah etika moral penelitian harus terus di junjung tinggi.

UNLAM Dan ANTISIPASI KEBOHONGAN PENELITIAN

Unlam yang telah berumur 52 tahun di hitung sejak tanggal 21 september 1958 yang berarti unlam memiliki usia cukup dewasa. Dalam rencana strategis Univ. Lambung Mangkurat 2006 – 2010 (Renstra UNLAM 2006 – 2010)  di tetapkan tujuh tujuan lembaga univ. Lambung mangkurat upaya pencapaian guna menanggulangi berbagai permasalahan di masyarakat, yakni :

  1. Peningkatan kualitas dan kuantitas Dosen
  2. Peningkatan sarana/prasarana pendidikan
  3. Peningkatan kinerja pembelajaran
  4. Membangun kreatifitas ilmiah mahasiswa
  5. Peningkatan keterampilan penunjang mahasiswa
  6. Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi
  7. Peningkatan peran dan fungsi perpustakaan dalam proses pendidikan, penelitian dan P2M (program Pengabdian Masyarakat)

Restra diatas menunjukkan bahwa unlam sangat memperhatikan penelitain karena penelitian merupakan kata yang tertuang dalam TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI namun Unlam yang berumur ini pun dalam beberapa waktu yang lalu tak lepas dari pemberitaan kebohongan penelitian. Di katakan bahwa mahasiswa Unlam menjadi pemanfaat dari jasa pemesanan skripsi dan tesis  dalam hal penyelesaian studi akademis nya di kampus.  Sehingga saya pribadi merasa sangat prihatin dengan beredarnya pemberitaan itu. Unlam sebagai sebuah institusi pendidikan harus nya dapat mulai membuat sebuah sistem antisipasi yang terintegrasi dalam hal bertujuan mengurangi kebohongan penelitian ini misalkan dengan membuat sebuah Software yang terhubung dengan Bank Data Hasil Penelitian yang berisi semua softfile penelitian baik skripsi, tesis, maupun disertasi lintas study ilmu. Dimana dalam praktekya ketika ada mahasiswa maupun dosen unlam yang telah selesai melakukan penelitian ketika di lakukan uji kebenaran dan keaslian (validitas-orisinalitas) penelitian dengan software tersebut yang dimana software itu dapat bekerja melakukan cek dan menilai tingkat validitas orisinalitas dari isi penelitian tersebut dan menyatakan kesimpulan validitas dan orisinalitas untuk di katakan layak atau tidak di simpan dalam bank data dan menjadi Sarjana, Master, atau Doktor. Pada sisi menekan prilaku untuk melakukan kebohongan penelitian maka di mulai sebuah tindakan dalam hal penanaman kebanggaan dan kesadaran dalam mencipta penelitian yg orisinal dan valid yang tentu tetap berbasis kemampuan sang peneliti sehingga disini peran dosen dan dosen pembimbing akan sangat berarti.

2 pemikiran pada “MORALITAS SEORANG AKADEMISI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s