POLITIK DAN EKSPLOITASI SYMBOL AGAMA

POLITIK DAN EKSPLOITASI SYMBOL AGAMA

Oleh

Achmad rozani ‘Ucox’

Dalam pertarungan untuk meraih kekuasan maka semua potensi untuk dapat mengantarkan seorang untuk menggapai kekuasaan itu pun akan dilakukan baik dengan bahasa verbal maupun non – verbal pada semua dimensi kehidupan sebab sejatinya seorang politisi adalah orang yang pandai dan mampu mengakumulasi semua potensi untuk dikelola dan dipengaruhi. Bahkan ruang agama pun dalam konteks simbol tak lepas dari mobilisasi untuk dikelola dengan melakukan ekploitasi simbol – simbol agama untuk meraih dan menarik simpati rakyat karena dia masih merupakan magnet yang kuat. Pada praksis nya bagaimana simbol agama dieksploitasi dapat kita lihat berfoto  sang calon dengan Ulama kemudian foto itu di publikasikan ke khalayak ramai dan media pengiklanan calon di hias terlihat alim dan bersahaja dengan menggunakan peci atau surban atau hal lainya yang tergolong simbol agama dijadikan hiasan untuk publikasi atau kampanye.

Mengutip perkataan Emile Durkheim dalam karya The Elementary Form of Religious Life (1915 bahwa Agama adalah jiwa dari sebuah masyarakat karena Agama adalah suatu perangkat yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengikat individu menjadi satu-kesatuan melalui pembentukan sistem kepercayaan dan ritus. Melalui simbol-simbol yang sifatnya suci. Agama mengikat orang-orang kedalam berbagai kelompok masyarakat yag terikat satu kesamaan. Menuju kepada arah solidaritas walaupun akhirnya Durkheim membedakan Solidaritas Organis dan Solidaritas mekanis sebagai penciri masyarakat modern dan tradisional

Simbol agama identik dengan labelisasi suatu golongan sehingga ini akan menyebabkan sebuah dikotomi sosial yang seharusnya seorang calon itu adalah sebuah representasi politik rakyat secara luas. Penggunaan simbol – simbol agama dengan tidak di iringi pendidikan politik yang benar dan dewasa adalah sebuah yang bahaya laten yang mengacam tumbuh kembang nya demokrasi. Demokrasi tentu tidak alergi bahkan anti agama namun demokrasi sangatlah menghargai dan menghormati agama. Demokrasi mendorong rakyat agar dapat menjanlankan nalar atau logika sehat nya untuk berpatisipasi hingga berperan aktif untuk bersikap tanpa terjebak di wilayah simbol agama atau tampilan yang di poles agar tampak baik.

Dalam Bangunan sosial beragama ketika proses politik mengeksploitasi simbol agama maka ini pun dapat menjadi potensi konflik yang terbuka dan memecah belah bangsa dan negara.  Slamet Effendy Yusuf mengatakan bahwa ada enam hal konflik umat beragama yang berujung kekerasan dalam politik, yakni Pertama, akar konflik dan kekerasan tidak pernah diselesaikan secara tuntas, yaitu kemiskinan, pendidikan dan kesehatan.  Kedua, ketidakdewasaan berpolitik para politisi yang lebih menonjolkan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik. Ketiga, buruknya komunikasi politik para elit politik. Keempat, kesadaran berpolitik masyarakat yang masih rendah. Kelima, belum termaknainya nilai-nilai demokrasi di dalam jiwa masyarakat, dan keenam, keberadaan media massa tertentu yang kurang mengindahkan prinsip-prinsip profesionalisme dalam konteks untuk melakukan penguatan pendidikan politik rakyat.

KONDISI POLITIK PENCITRAAN CALON PEMIMPIN KALSEL DI RUANG PUBLIK

Kalimantan selatan yang merupakan mayoritas beragama islam dan dalam akar sejarahnya masyarakat kalimantan selatan dikenal sebagai sebuah masyarakat yang religius (taat beragama dan menjujung tinggi nilai-nilai agama).  Penguasaan atas simbol dijelaskan sebagai kuasa untuk menciptakan realitas yang bersifat yang seakan-akan legitimate dan mengandung kekuatan untuk membentuk wajah realitas, mengamati fenomena pencitraan dari para calon pemimpin kalsel yang akan berlaga dalam pemilihan umum kepala daerah (Pemilu kada) yang ditunjukkan dalam ruang publik tak lepas dari eksploitasi atribut simbol – simbol agama sebagai media komunikasi penarik simpati rakyat dengan berusaha membentuk opini publik yang dimana ini sebenarnya menandakan bahwa lemahnya pendidikan dan komunikasi politik terhadap rakyat di kalimantan selatan oleh para kandidat, karena rakyat dipaksa dan didorong untuk memilih berbasiskan citra polesan yang dibuat sangat baik oleh sang calon pemimpin yang dimana terkadang ini sangat lah subjektif.  Seharusnya rakyat didorong untuk memilih berlandaskan ilmu pengetahuan mereka maka ketika memilih berdasarkan ilmu pengetahuan Imanuel kant berkata ilmu pengetahuan sudah melampaui sekedar penampilan. Sehingga ilmu pengetahuan tidak tunduk dibawah kategori opini publik melalui pencitraan yang dibuat, seperti yang di proklamirkan Karl marx opini publik sebagai sebuah kesadaran palsu.

Hegel dalam karyanya Hegel’s Philosophy Or Right (1966), Pada suatu waktu, opisisi antara moral dan politik., dan tuntutan bahwa politik harus menyesuaikan diri dengan moral. Sudah banyak hilang.  Mengenai hal ini, hanya satu kesimpulan umum saja yang di perlukan. Kemakmuran sebuah negara memilik klaim- klaim pengakuan yang sama sekali berbeda dari klaim –klaim kemakmuran individu.  Substansi etis yaitu negara, memiliki batasan nya sendiri yakni haknya yang mewujudkan langsung kedalam suatu ekstens, bukan abstrak melainkan konkrit.  Hanya prinsip hubungan dan tingkah lakunya saja yang bisa menjadi eksistensi konkret bagi hal ini, bukan salah satu dari banyak pemikiran universal tidak terbukti bertentangan dengan moral. Apabila  politik pada nyatanya tidak terbukti bertentangan dengan moral, dan selalu begitu adanya, maka doktrin iyu akan menjerumusakan kita kepada ide dnagkal mengenai moralitas, hakikat negara dan hubungan negara sudut pandang moral.

Sehingga harapan terbesar kepada rakyat kalsel dalam menyikapi pemilukada kalsel adalah mulai melakukan sebuah agenda indikator pribadi dalam menilai bagaimana seorang calon pemimpin itu dilihat dan dinilai layak untuk menjadi pemimpin kalsel kedepan dari pada hanya terbawa sebuah arus pencitraan dengan menggunakan simbol agama akan menghadirkan kesan layak pilih dan baek. mengutip Sofian M. asgart mengatakan bahwa Momen pilkada di negeri ini dapat menjadi madu yang meneguhkan demokrasi, bukan menjadi racun yang membunuh harapan masa depan dan kedaulatan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s